Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Tantangan Generasi Muda di Era Milenial

Tantangan Generasi Muda di Era Milenial

Masih ingat kapan terakhir belajar sejarah? Ya, kebanyakan pasti menjawab saat SMA. Sebenarnya sejak duduk di bangku SD, kita sudah dikenalkan dengan pelajaran itu. Namun karena waktu itu, pelajaran yang harus dikuasai banyak dan dituntut memenuhi KKM semua. Akhirnya tidak fokus dan setengah-setengah dalam mempelajari.

Selain itu, metode yang digunakan guru sejarah masih bersifat menghafal. Paling sering disuruh hafalan tahun, tokoh, dan isi perjanjian. Kalau tidak bisa, konsekuensinya adalah hukuman. Setelah kuliah dan lulus seperti sekarang, saya merasa tuntutan atau metode semacam itu sungguh konyol. Mengapa? Menghafal bukanlah cara berpikir yang baik. Anak hanya diajari untuk banyak belajar tanpa fokus yang jelas. Memang sih, di SMA sudah ada penjurusan IPA dan IPS namun tidak jelas arahnya ke mana.

Sejak dini kita jarang ditanya soal hobi dan pelajaran yang disukai. Orang tua jarang memperhatikan potensi anaknya, yang ada hanya tuntutan harus ngerjain PR, ikut les sampai larut malam, setelah itu tidur! Tidak ada waktu sama sekali untuk bermain. Karena kebanyakan orang tua takut, nanti kalau anaknya dapat nilai jelek maka disangka bodoh.

Haruskah kepandaian seorang anak diukur hanya dari nilai Matematika? Apakah anak bisa genius kalau tuntutannya banyak? Sudahlah, jangan menyamaratakan kemampuan anak. Guru harus mulai berpikir dan bisa mengarahkan, jika anak didiknya bercita-cita sebagai arkeolog seperti saya, maka mereka harus menguasai pelajaran A misalnya. Ya sudah, berarti mata ajar itu yang ditekuni. Meski saya pernah berada di dalam lingkaran siswa unggulan, namun sayangnya jawaban seperti ini tidak saya peroleh.

Belum Cukup

Zaman sudah berubah dan era milenial mulai mewarnai rutinitas hari ini. Teknologi telah mengubah banyak hal, anak muda dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi menyenangkan. Hari ini yang dibutuhkan generasi milenial adalah ilmu belajar. Sehingga mereka membutuhkan lebih dari seorang guru, yaitu pendidik.

Ada hal menarik ketika saya bertemu dengan adik kelas Program Studi Arkeologi kemarin. Dengan semangat, ia ingin lulus 3,5 tahun. Mendengar hal itu saya tersenyum dan pelan-pelan saya bilang bahwa itu saja belum cukup. Masih banyak materi yang perlu dipelajari. Apalagi, seorang arkeolog mainnya ke lapangan terus.

Tantangan mahasiswa arkeologi sekarang sangat kompleks. Selain paham teori mereka juga harus mengerti fakta di lapangan. Belum lagi ketika kita menghadapi konflik pengelolaan warisan budaya di daerah. Antara teori dengan fakta kadang berbeda jauh. Di sinilah seorang mahasiswa arkeologi (calon arkeolog) harus bisa berpikir bukan hafalan.

Dua Tahun

Bulan Maret lalu, saya ke Malang untuk menjadi salah satu narasumber dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi. Acara itu diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Arkeologi Jawa Timur bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Dengan tema “Pengembangan dan Pemanfaatan Cagar Budaya di Jawa Timur”.

Sudah dua tahun ini saya berkesempatan untuk menjadi salah satu narasumber dalam acara serupa. Meski di sana tergolong paling muda dibanding narasumber lain. Namun saya senang, karena dapat berbagi perkembangan kondisi warisan budaya di Banyuwangi.

Narasumber hari kedua DIA Jatim 2018 dari kiri ke kanan: Drs. Andi Mohammad Said, M.Hum (kedua dari kiri), Khairil Anwar, S.S., Drs. Ismail Lutfi, M.A., dan Jingga Kelana. (Foto: Anna C. Saragih.)

 

Ketika berbicara tentang pengembangan dan pemanfaatan Cagar Budaya, sebenarnya banyak fakta yang sering kita temui di lapangan. Contohnya, masyarakat sengaja merusak dengan alasan belum ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Persoalan seperti ini tidak bisa diselesaikan di dalam kelas atau di belakang meja. Tahukah Anda bahwa ilmu yang kita pelajari di sekolah dan di kampus cepat tertinggal? Ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Adu kejar antara guru/dosen dan para penjelajah pengetahuan terus terjadi.

Saya sering memberi tantangan kepada adik-adik kelas di Program Studi Arkeologi. Ketika liburan, coba luangkan waktu untuk nyitus (berkunjung ke tempat-tempat bersejarah) ke daerah masing-masing! Amati kemudian data potensi sumber daya Arkeologi yang ada! Hal sederhana yang nanti dapat membantu mereka dalam mengambil keputusan saat akan mengajukan proposal skripsi.

Mereka di lapangan akan menemukan hal baru. Praktik secara langsung bagaimana cara berpikir secara benar dan mengidentifikasi sebuah temuan arkeologi. Alat mereka hanya skala meter, GPS, kamera, dan alat tulis. Melatih manusia berpikir adalah masalah mendasar yang perlu dipecahkan di era milenial seperti sekarang. Terlebih sastrawan George Bernard Shaw pernah berkata, hanya dua persen orang yang berpikir. Tiga persen yang berpikir bahwa mereka telah berpikir dan 95% selebihnya memilih lebih baik mati ketimbang berpikir.


Biodata Penulis

Jingga Kelana Putra Santiaji, menyelesaikan S-1 Arkeologi di Universitas Udayana, Denpasar. Sejak kuliah sudah sering menjadi panelis atau narasumber dalam diskusi ilmiah tentang budaya dan ilmu yang digelutinya, baik di tingkat lokal maupun nasional. Pemuda yang pernah malang melintang di dunia teater, organisasi sekolah, kampus, dan keagamaan ini, sekarang mulai mengurangi aktivitas tersebut. Ia memilih untuk menekuni bidang arkeologi dan menuangkan hasilnya dalam sebuah tulisan.

Facebook Comments