Tuesday, October 16, 2018
Home > Literasi > Cerita > Terkasih

Terkasih

“Loh, kok mau menikahnya dengan Sigit Siswanto sih, Kak? Bukannya yang dekat denganmu justru Sigit Marianto?” Aku merespons cerita Kak Ita, kakak perempuanku, dengan ekspresi tidak percaya.  Kak Ita justru cuma tersenyum.

“Jodoh memang aneh, yang dipacarin siapa, eh yang dinikahin orang yang lain pula,” gumamku padanya. Kak Ita masih tersenyum. Kami lalu mengobrol banyak hal terkait perempuan.

Apa pun pilihan Kak Ita, aku yakin lelaki itu pastilah orang yang sempurna. Aku tahu persis bagaimana Kak Ita.  Ia tipe perempuan yang tidak gampang jatuh cinta. Berkebalikan denganku. Melihat cowok gondrong bersuara merdu dan jago main gitar saja, dipastikan sudah bikin aku setengah jatuh cinta mendadak.

Kak Ita memang berbeda sejak dulu. Ia perempuan yang pintar sejak kanak-kanak. Peringkat tiga besar di kelas, selalu saja d sabetnya.  Kelebihan itu jugalah yang membuatnya diterima Sekolah Menengah Analis Kesehatan  Bandar Lampung. Sebab tak semua orang bisa diterima di sana. Hanya orang-orang pilihan yang memiliki otak encer. Betapa beruntungnya lelaki itu, ia pasti telah lebih dulu menaklukkan otaknya sebelum kemudian mendapatkan hati Kak Ita.

“Orangnya baik, Wi. Soleh lagi. Setiap pagi sebelum aku masuk kelas, ia selalu mengelap meja dan kursi tempatku dudukku.  Itu tanpa ku ketahui loh,” aku melongo mendengar penjelasan Kak Ita.

“Hah? Ngelap kursi? Serius Kak?” aku jelas tidak percaya.

“Halah, pasti karena orangnya pintar, iya kan?” lanjutku tertawa setengah menebak.

“Kalau itu sudah pasti dong!” Kak Ita mencubit hidungku sambil meloyor pergi. Sementara aku sendiri masih tidak percaya pada apa yang Kak Ita sampaikan barusan.

**

Beberapa tahun kemudian, saat langit-langit di  kamarku terasa menenangkan, aku kembali memikirkan Kak Ita. Aku pernah sangat iri kepadanya.  Hidup kakak perempuanku itu terlihat berjalan dengan mudah dan sempurna. Ia anak perempuan yang kerap dibanggakan papa. Sementara aku hanya menjadi bayang-bayang yang sering di banding-bandingkan dengan dirinya. Utamanya soal prestasi akademik.

Keberuntungan masih saja mengikuti Kak Ita. Tak lama setelah ia menikah dengan Mas Sigit Siswanto, keduanya juga diangkat sebagai ASN dan ditugaskan di salah satu kota kabupaten di Bandar Lampung. Sungguh, sebuah tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Aku semakin jarang bertemu dengan kakak pertamaku itu. namun telepon genggam acapkali membuat kami cerita tak henti-henti. Dari banyak ceritanya, aku tahu kalau Kak Ita hidup bahagia.

Dan aku masih malang melintang bertugas di lapangan. Aku tidak pernah bernyali mengikuti berbagai tes masuk ASN karena sadar akan kapasitasku. Untuk masalah percintaan pun, lebih banyak tidak suksesnya. Kak Ita hanya geleng-geleng kepala saja saat mendengar ceritaku. Setiap bertemu dengannya, laki-laki yang  kuceritakan juga selalu berbeda.

Persaudaraan kami bisa dibilang sangat dekat. Tak ad aobrolan yang terlewatkan jika bersua,

mulai dari situasi rumah, keadaan tetangga, kerjaan, gosip artis, tren film terbaru, hingga sampai  kasus pasien di rumah sakit tempat Ita bekerja. Aku tahu, Kak Ita akan selalu ada untuk menjadi tong sampah atas semua masalahku, meski jarak yang jauh bukanlah pembatas.

***

Keadaan ekonomi rumah tangga Kak Ita dan Mas Sigit semakin mapan saja. Kelahiran Thia dan Rafli menjadi suntikan semangat bagi keduanya untuk makin giat bekerja.  Sementara aku sendiri semakin jarang pulang ke rumah. Hobi naik gunung makin menyeretku bekerja jauh ke lokasi-lokasi pedesaan.  Sampai akhirnya aku mencoba peruntungan di Jakarta, lalu hijrah lagi untuk bekerja di Kota Jambi. Kami semakin jarang berjumpa. Hingga akhirnya aku menikah dan komunikasi kami lebih banyak melalui telpon.

Saat itu Kak Ita bercerita kalau keluarga mereka berencana pindah menetap di Kota Bandar Lampung. Mas Sigit, suaminya, positif terkena hepatitis. Pekerjaannya sebagai analis di laboratorium puskesmas memang punya risiko besar terjangkit berbagai virus dan bakteri yang sehari-hari menjadi santapannya.

Rencana pindah tersebut tentu akan berdampak lebih baik pada kesehatan Mas Sigit. Sebab ia tidak perlu lagi menempuh perjalanan ke lokasi kerja yang lumayan jauh, juga lebih mudah untuk mendapatkan obat yang secara rutin harus ia minum. Cerita Kak Ita tentang rencana itu tentu saja aku sambut dengan gembira. Kalau Kak Ita pindah ke kota Bandar Lampung, setidaknya juga akan lebih dekat dan lebih sering melihat orang tua kami.

Tahun depan Thia juga sudah masuk ke SLTA. Aku juga cukup tahu bagaimana Kak Ita dan Mas Sigit sangat concern untuk kualitas pendidikan kedua anaknya. Sejak itu, aku tahu keduanya sibuk mempersiapkan usulan kepindahan. Ada saja hambatan yang mempersulit. Ketika Propinsi Bandar Lampung sudah bersedia menerima, justru kabupaten yang belum mau melepaskan. Urusan birokrasi ASN bisa dibilang cukup rumit. Namun, Kak Ita memutuskan untuk tetap mengikuti prosedur. Ia tidak mau menambah daftar kotor tentang sogok-menyogok.Aku tentu sangat setuju dengan prinsip itu.

**

“Wi, kamu gak mau pulang ke Lampung? Mama makin khawatir dengan kondisi Mas Sigit. Kalau bisa pulanglah, temani Kak Ita!”Pagi itu Mama memberi kabar lewat telpon. Sudah dua hari ini aku di kota Palembang dengan urusan pekerjaan kantor dan aku gagal pulang lagi, padahal aku telah memesan tiket pesawat.

Mas Sigit sakit sudah tiga minggu terakhir. Awalnya, ia mengeluh sakit pada bagian perut, tetapi setelah opname dan cek lengkap, vonis dokter terakhir justru membuat kami semua tidak percaya.

Mas Sigit divonis gagal ginjal dan harus segera melakukan cuci darah.

Jangankan aku dan keluarga yang cukup awam dengan penyakit itu, Kak Ita sebagai orang kesehatan pun tidak mempercayai hasil lab dan berbagai rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan. Sejak vonis jatuh, Mas Sigit mulai melakukan cuci darah. Aku hanya mendengar perkembangan sakitnya melalui mama.

Di balik itu Kak Ita tetap menjadi istri yang setia. Suaranya tidak mampu menutupi keletihan dan kekhawatirannya atas Mas Sigit. Seumur pernikahannya, baru ini Mas Sigit sakit serius hingga hampir tiga minggu opname di rumah sakit.

“Baik, Ma. Ewi akan pulang ke Lampung dengan travel sore ini. Tiket pesawat biarlah hangus,” aku memastikan kepulanganku pada Mama.

**

Tanah kuburan almarhum Mas Sigit mulai di taburi bunga oleh kerabat dekat. Kak Ita ku duduk lunglai di atas nisan dengan tangis yang tak lagi bersuara. Beberapa sahabat sekolah menyangga tubuhnya agar dapat terus berdiri. Di sampingnya ada Thia dan Rafli dalam kesedihan yang tak terucap.

Kemarin adalah jadwal cuci darah Mas Sigit. Kondisinya drop sebelum ritual cuci darah selesai.  Bergegas Kak Ita dan tim perawat membawanya kembali ke ruang perawatan. Tubuhnya dingin dan sedikit menggigil.

Aku sempat keluar untuk mencarikannya kaos kaki di minimarket terdekat. Ku lihat Kak Ita sibuk menyelimuti tubuh Mas Sigit dan berupaya memberinya susu hangat serta bubur cair.

Sejak dari ruang cuci darah sampai ke ruang perawatan, Kak Ita terus mendampinginya. Kadang ia berbaring di sebelah Mas Sigit dan membisikan kata-kata untuk menguatkan teman hidupnya itu agar dapat bertahan. Tangannya menggengam erat telapak tangan Mas Sigit. Dan kami hanya bisa berdoa, Mas Sigit dapat melewati masa kritisnya malam itu….

**

Tangis Kak Ita membangunkanku yang sempat tertidur di lantai dekat ranjang rumah sakit.

Tetangga ruangan yang mendengar mulai berdatangan dan berinisiatif membacakan surah yasin.

Keluarga mulai ditelpon.Termasuk Thia dan Rafli yang sebetulnya juga baru saja tiba di Kotabumi karena bertepatan dengan ujian semester. Suasana di kamar begitu tegang dengan rasa takut dan sedih yang bercampur baur.

Kak Ita terus ada di sisi Mas Sigit. Tangisnya tidak terbendung. Dalam isaknya lamat-lamat ia tuntun suaminya untuk terus menyebut nama Allah.

”La illa haillaulloh……la illa haillaulloh…..Allah…Allah…Allah,” tangis kami semua pecah mengantar sakaratulmaut yang sedang di hadapi Mas Sigit. Ia pun pergi dengan tenang tepat pukul 02.15 WIB.

**


Biodata Penulis

Dewi Yunita Widiarti, sehari-hari bekerja di sebuah LSM lingkungan di Jambi.

Facebook Comments