Thursday, July 19, 2018
Home > Lingkungan > Tiga Hari Selusur Kopi Konservasi

Tiga Hari Selusur Kopi Konservasi

Pagi itu masih terlalu dingin, uap tubuh berbaur dengan kopi yang baru saja diseduh. Lamat-lamat kuhirup wangi kopi yang menguap begitu cepat mengalahkan dinginnya udara dalam ruangan. Memasuki musim hujan di penghujung tahun, rinai gerimis menambah kedinginan yang membuat tubuh-tubuh kami malas beringsut dari ruangan pertemuan yang sedari tadi riuh menceritakan demam kopi di masyarakat Desa Baru Kecamatan Jangkat , Kabupaten Merangin.

Cerita mengenai demam kopi tersebut, sambung-menyambung tiada henti. Antusias masyarakat bertanam kopi saat ini sedang berada pada puncaknya. Kini, pada tiga belas desa di Merangin yang tersebar di tiga Kecamatan, yaitu kecamatan Jangkat, Jangkat Timur dan Lembah Masurai tengah menggandrungi kopi sebagai komoditas utama perkebunan yang dapat diandalkan.

Kabupaten Merangin dan Kerinci merupakan dua lumbung kopi jenis Robusta dan Arabika di Provinsi Jambi. Pada event Selusur Jejak Kopi kali ini diikuti tujuh media cetak dan elektronik, baik lokal maupun nasional. Tujuh orang tim media visit diantaranya, Mongabay Indonesia, The Jakarta Post, Antara , Antara Foto, Tribun Jambi, Puan.co, Kompas TV dan Trans 7.  Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini, membawa kami pada nilai segelas kopi.

Bagi petani kopi, banyak harapan dan mimpi yang mereka gantungkan pada bulir-bulir kopi yang mereka panen. Ini tentang masa depan keluarganya, tentang masa depan keturunannya dan juga tentang masa depan jantung hutan dataran tinggi, yang berada dalam Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Namun, kopi bukanlah tanaman baru yang ditanam masyarakat di Kecamatan Jangkat dan Jangkat Timur, maupun Lembah Masurai. Sejak tahun 1980an, masyarakat yang hidup di kaki Gunung Masurai ini menanam kopi. Syofyan Ali, Ketua Kelompok Masyarakat Ramah Lingkungan Sinar Harapan,  Desa Gedang, Kecamatan Jangkat Timur menyebutkan bahwa era kopi telah membuat banyak kulit manis yang ditanam petani beralih menjadi tanaman kopi.

“Dulu animo masyarakat tingi menanam kulit manis (Cinnamomum verum), tapi sejak tahun 2000-an harga kopi lebih baik. Banyak yang akhirnya menebang tanaman kulit manisnya dan menggantikannya dengan tanaman kopi,” sebut Sofyan Ali.

Yuslima Rida, istri Syofyan Ali, saat itu tampak membantu suaminya memetik kopi yang berwarna merah. Sesekali tangannya memperbaiki letak selendang yang dipakai seadanya menutupi rambut. Kalau orang-orang menyebutnya itu tengkuluk, tutup kepala perempuan Jambi pada umumnya yang dipakai ketika keluar rumah. Jemarinya dengan lincah mempereteli satu per satu bulir bernas kopi berwarna merah.

Yuslima selalu menyempatkan memanen kopi setiap minggunya. Setiap pagi, sekitar pukul 07.00 WIB hingga matahari merona di ufuk barat, dia selalu mendampingi suaminya ke ladang kopi milik mereka. Perjalanan ke ladang kopi itu, hanya memakan waktu setengah jam perjalanan dari tempat tinggal mereka. “ Kalau seminggu bisa lah mencapai 100 kg kopi basah panennyo. Lumayanlah hasilnya saat ini. Sekarang kami juga tidak membutuhkan pupuk dan semprot hama untuk membersihkan tanaman,” kata perempuan berkulit putih tersebut.

Ada 18 orang anggota kelompok yang tergabung dalam Masyarakat Ramah Lingkungan Sinar Harapan, Desa Gedang, Kecamatan Jangkat Timur. Setiap anggota kelompok, rata-rata memiliki kebun kopi seluas dua hektar. Persepsi yang terbangun dalam masyarakat terkait dengan luasan lahan kopi, berbanding lurus terhadap tingkat pendapatan masyarakat. Anggapan itu tampaknya lenyap dengan adanya pelatihan pengolaan perkebunan kopi yang dilakukan.

Kemampuan dalam pengoptimalisasian pengelolaan berkebun kopi yang baik, ternyata menjadi solusi mengurangi bahkan menghentikan pembukaan lahan baru hingga ke kawasan TNKS. Oleh karena itulah, peningkatan kapasitas petani dalam budidaya kopi di  Jangkat dilakukan dengan mengadakan Sekolah Lapang. Ediyanto, Fasilitator Lapagan Lembaga Tiga Beradik (LTB) yang berkonsorsium dengan Pundi Sumatera menyebutkan, bahwa sekolah lapang yang dilakukan mampu mengembalikan kembali tradisi tanam kopi yang sudah dilakukan turun menurun dan ramah lingkungan dengan tanpa menggunakan pupuk.

Dulu kan, kopi ditanam tanpa ada tambahan penggunaan pupuk. Beberapa teknik untuk mengatasi serangan hama seperti penggerek buah dengan menggunakan pepsitisida nabati.” Jelasnya.

Sekolah lapang  sudah dilakukan di 9 kelompok yang tersebar di  kecamatan Jangkat dan Jangkat Timur, maupun Lembah Masurai. Ada lebih dari 144 petani kopi yang mengkuti kegiatan sekolah lapang ini. Mastandar salah satunya, petani kopi di Desa Baru Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin menyebutkan, sekolah lapang memberikan banyak manfaat bagi mereka.

Menurut Mastandar, semenjak mengikuti sekolah lapang, mereka juga diajarkan dalam pengolahan pasca panen. Biasanya kopi mereka petik secara random dengan mencampurkan buah merah dan yang berwarna kuning, maupun hijau. Dengan pengetahuan untuk memetik buah merah, mereka mendapatkan nilai jual yang jauh meningkat. “ Dulu tanpa mengerti petik buah merah, kopi kita dijual dengan standar asal-asalan. Harganya jauh lebih murah hanya sekitar Rp. 20 ribuan per kilo gramnya yang belum di proses. Tapi ketika petik merah kita bisa menjual kisaran Rp .30 ribuan per kilo gramnya. Apalagi kalau sudah diproses menjadi green bean harganya bisa mencapai Rp. 45 ribuan,” sebutnya.

Mastandar juga mengakui pengeluaran yang dilakukan dalam perawatan kopi pun kini berkurang. Dulu, dia harus menyiapkan dana lebih untuk membeli pupuk. Namun, sekolah lapang mengajarkan banyak cara alami yang bisa dilakukan untuk mengusir hama dan juga pembuatan pupuk organik.

Adanya kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh Ediyanto,  menyebutkan mampu meningkatkan produktivitas kopi yang semula hanya berkisar 0,8-1,2 ton/hektar/tahunnya meningkat menjadi 1-2 ton/ hektar/tahunnya. “Kegiatan optimalisasai pengelolaan sumber daya alam lestari yang didukung pendanaan Millenium Chalenge Account (MCA) Indonesia, fokus pada empat kegiatan yaitu, perbaikan budidaya, pengolahan pasca panen, membuka akses pasar dan juga tata ruang mikro. Empat kegiatan ini terbukti meningkatkan produktifitas kopi dan peningkatan pendapatan bagi petani,” sebutnya.

Temaram senja membayang, rombongan media visit tiba di sebuah bangunan sederhana dengan luasan hanya sektar 4x 6 meter. Di atas bangunan tersebut terbentang tulisan “Sekretariat Koperasi Amanah Madras Sejati”. Seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh menyambut kedatangan rombongan. Darma Julita nama perempuan itu, dia merupakan Ketua Koperasi Amanah. Dia kemudian bercerita bagaimana koperasi perempuan ini dibangun sejak Juni 2016.

“ Awalnya kita hanya Kelompok Wanita Tani Tamiang Kreatif yang hanya beranggotakan 15 orang perempuan. Kegiatan yang kami lakukan hanya pengajian saja dan sesekali kalau ada agenda bantuan baru ada rapat,” ujarnya mengenang perjalanan pembentukan koperasi yang saat ini sudah beranggotakan 37 orang petani perempuan.

Koperasi serba usaha ini mengolah produk hasil pertanian, diantaranya kopi dalam bentuk bean maupun bubuk, kulit manis dan jahe. Saat ini koperasi Amanah sudah memiliki satu buah gudang , dua mesin penggiling kopi basah dan kering, dua mesin pengolahan kayu manis. Menariknya, iuran simpanan wajib yang mereka kumpulkan berupa serbuk kopi. Setiap anggota menyerahkan simpanan berupa serbuk kopi sebanyak 2 kilo gram setiap anggota per bulannya.

Serbuk kopi yang bisa dikumpulkan itu, setiap bulan mencapai 200 kilo gram. Sementara kata Darma, beberapa toko di Bangko banyak membutuhkan setidaknya 80 kilo gram setiap minggu nya. “ Kita saat ini terkendala dengan modal. Karena sifatnya masih swadaya, jadi modal yang dimiliki terbatas. Sementara untuk pasar yang masih bisa kami jajaki baru sebatas ibukota kabupaten saja. Sementara untuk tempat lain belum ada yang bekerjasama,” ulasnya.

Malam menyisakan dingin yang menusuk, tatkala dua mobil yang kami tumpangi beriringan merangkak menuju Kabupaten Kerinci. Jejeran perbukitan tak lagi mampu kami nikmati, karena lelap sudah menguasai kelopak mata yang telah lelah. Udara sejuk pegunungan Kerinci menyapa kedatangan rombongan media visit. Rinai hujan menyambut pagi dan membuat udara semakin dingin.

Kedatangan kami pagi ini telah ditunggu dua kelompok tani di kawasan perladangan Bukit Bulat, Sungai Renah Desa Pasar Minggu, Kecamatan Kayu Aro Barat, Kabupaten Kerinci. Kelompok Tani Talang Kuning dan Kelompok Tani Sumber Rezeki, merupakan dua kelompok tani yang memiliki perladangan di kawasan Bukit Bulat, Sungai Renah.

Sejak 1948, mereka sudah bertanam di lokasi perladangan Bukit Bulat. Namun ketidakjelasan status kawasan, membuat banyak petani yang rela menjadi anak ladang, penerima upah dari pemodal untuk membuka lahan perkebunan baru. Defrizal, Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki menyebutkan, selama ini mereka meninggalkan kawasan tersebut dikarenakan ketidakjelasan status kawasan dan lahannya tidak bisa diolah karena kehilangan kesuburannya.

“Banyak petani yang memilih menjadi anak ladang, karena tidak adanya lahan perkebunan yang bisa mereka kelola. Dan yang terjadi adalah anak ladang ini hanya menjadi buruh bagi pemodal, yang kadang juga merambah kawasan TNKS. Mereka ada yang tidak tahu dan ada yang tidak memiliki pilihan,” jelasnya.

Facebook Comments