Sunday, May 27, 2018
Home > Literasi > Pendidikan > Aksi Damai Jambi Menolak Terorisme

Aksi Damai Jambi Menolak Terorisme

Menjelang pertengahan tahun 2018, mayarakat Indonesia dikejutkan oleh aksi berantai yang dilakukan oleh terduga teroris di Surabaya. Tak tanggung-tanggung, dalam aksinya tersebut, para terduga teroris melakukan pengeboman dalam jarak waktu yang berdekatan pada tiga gereja sekaligus di hari Minggu, 13 Mei 2018. Belum habis luka akibat ulah mereka pada hari minggu naas itu, lanjut pada hari Senin, 14 Mei 2018 terduga teroris juga mengebom Mapolrestabes Surabaya.

Peristiwa pengeboman ini menorehkan duka yang dalam bagi masyarakat Indonesia. Simpati pun ditujukan kepada korban yang berjatuhan, baik dari masyarakat sipil maupun yang berasal dari aparatur penegak hukum pemerintah, yaitu polisi yang kini menjadi objek sasaran pembunuhan oleh terduga teroris. Disamping itu, simpati sekaligus kecaman juga ditujukan kepada terduga pelaku aksi pengeboman, sebab mereka kini juga melibatkan perempuan dan anak-anak dalam menjalankan aksi biadabnya.

Seperti diketahui, bahwa terduga pelaku pengeboman di tiga gereja tersebut dan juga Mapolrestabes Surabaya adalah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak laki-lakinya di bawah umur dan anak perempuan yang masih Sekolah Dasar. Maka dari itu, banyak tanya menyeruak di benak masyarakat Indonesia, apa sebenarnya yang  ingin dicapai oleh aksi gerakan teroris ini? Sebegitu masif  sebuah keluarga ditarik oleh gerakan terorisme yang menafikkan kemanusiaan.

Di tengah era Indonesia menuju tahun politik yang rawan dan penuh resiko perpecahan, peristiwa ini  menjadi agenda yang bisa jadi menyulut kutub-kutub perpecahan atau justru persatuan.  Sebab kita tahu, akhir-akhir ini gerakan intoleransi, radikalisme, penyebaran maupun perilaku kebencian juga turut membalut tahun politik di Indonesia dan cukup membuat masyarakat terpolarisasi dengan tajam.

Polarisasi itu atas nama kebebasan berpendapat, kerap kali melanggar batas kemanusiaan yang harusnya dihormati.  Apalagi jika ditambah dengan peristiwa pengeboman di Surabaya ini, maka wacana-wacana kemanusiaan, kenegaraan, persatuan, kebhinekaan, semakin menjadi penting untuk diluruskan demi mencapai kedamaian, kenyamanan dan ketertiban. Oleh karena itu, peristiwa ini juga menyulut  gerakan aksi damai di beberapa tempat.

Salah satu aksi damai yang digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap peristiwa teror bom di Surabaya, yaitu aksi damai yang diberi tajuk Jambi Menolak Terorisme, Pray For Surabaya pada Selasa malam, 15 Mei 2018. Aksi yang mengambil tempat di bundaran tugu juang kota Jambi ini, digagas oleh mahasiswa dari kampus Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Nurdin Hamzah dan komunitas Grindsick kota Jambi.

Pada aksi tersebut, penggagas berhasil mengumpulkan beberapa elemen masyarakat dalam aksi damai. Diantara elemen masyarakat yang hadir dan mengikuti aksi adalah Pemuda Pancasila, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Persatuan Pemuda Katolik, Pemuda Muhammadiyah, Front Mahasiswa Nasional, masyarakat lintas agama, perempuan, jurnalis, unsur kepolisian dan lain-lain. Dalam aksi ini, digelar acara orasi, puisi, menyalakan lilin perdamaian, doa bersama dan menyanyikan Indonesia raya.

Orasi yang dilakukan dalam aksi tersebut, kebanyakan berisi kecaman terhadap tindakan brutal yang dilakukan oleh terduga teroris dalam mengebom tempat ibadah dan kepolisian. Para orator yang mewakili semua elemen masyarakat itu, baik lai-laki maupun perempuan, selain menyerukan kecaman juga menyerukan tuntutan kepada pemerintah untuk menuntaskan Undang-Undang Terorisme, merancang sistem pendidikan yang anti terhadap terorisme.

Selain itu, mereka semua juga menyerukan untuk waspada terhadap bibit-bibit terorisme seperti radikalisme, intoleransi dan kebencian atau sentimen terhadap ras, golongan maupun agama. Mereka semua sepakat bahwa apa yang dilakukan oleh para terduga teroris ini, meskipun menggunakan pakaian agama tertentu, bukanlah mewakili perilaku dan ajaran agama tertentu, maka dari itu adanya peristiwa pengeboman ini jangan dijadikan sebagai sarana menyebar sentimen kepada agama tertentu.

Di penghujung acara, sambil menyalakan lilin, para peserta aksi menyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebab mereka semua justru menginginkan agar masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, ras, keyakinan, semakin erat bergandengan tangan dan tidak dapat dipecah belah dengan adanya peristiwa ini. Selesai menyanyikan Indonesia Raya, perwakilan lintas agama memimpin doa bersama memaafkan juga mendoakan terduga pelaku teroris dan mendoakan korban, juga mendoakan agar Indonesia senantiasa aman serta damai.

Facebook Comments