Sunday, May 27, 2018
Home > Lingkungan > Deklarasi Kabupaten Pringsewu ODF (Open Defecation Free)/ Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) Dan Advokasi Horizontal Learning (AHL) Akkopsi

Deklarasi Kabupaten Pringsewu ODF (Open Defecation Free)/ Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) Dan Advokasi Horizontal Learning (AHL) Akkopsi

Pembangunan subsector sanitasi sudah sejak lama dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan pihak lain yang konsen terhadap bidang tersebut. Hal ini dilakukan untuk menekan tingginya angka kesakitan yang disebabkan oleh penyakit akibat layanan sanitasi yang buruk, seperti penyakit diare, kolera, typhoid fever, paratyphoid fever, disentri, penyaki tcacing, ascariasis, hepatitis A, hepatitis E, dan penyakit yang berhubungan dengan  malnutrisi yang  dapat menyebabkan kondisi stunting.

Di Provinsi Lampung, sekitar 1,3 juta atau 17 % masyarakatnya masih berperilaku buang air besar sembarangan (BABS). Data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menyebutkan lima  wilayah dengan angka penduduk yang rendah mengakses jamban sehat dan layak, yaitu Kabupaten Tulang Bawang Barat (57,86%), Tanggamus (55,03%), Mesuji (31,6%),  Pesisir Barat (53,6%), dan Tulang Bawang (60,59%).  Sementara dua kabupaten dan kota telah memiliki akses jamban yang sehat dan layak, yaitu di Kabupaten Pringsewu (100%), Kota Metro (90,42%).

Kabupaten Pringsewu pada akhir tahun 2017 berhasil menjadi kabupaten pertama di Pulau Sumatera yang dapat mewujudkan akses 100 % jamban sehat bagi seluruh penduduk dengan kepemilikan sarana 90 %.   Keberhasilan Kabupaten Pringsewu merupakan upaya seluruh stakeholder dengan strategi pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).  Pencapaian   tersebut ditentukan oleh sinergi para pihak dan komitmen pimpinan daerah melalui regulasi serta peran serta masyarakat dan pemerintah desa.

Dari KecamatanPagelaranMenujuKabupaten Open Defecation Free (ODF)

Pada bulan Mei 2017, Kecamatan Pagelaran melakukan deklarasi sebagai kecamatan pertama  di Kabupaten Pringsewu yang berhasil mencapai kondisi 100% akses sanitasi layak dengan pendampingan dari SNV Netherlands Development Organization. Keberhasilan Pagelaran mencapai kondisi ODF (Open Defecation Free) tersebut diawali melalui pemicuan perubahan perilaku di 22 desa, dilanjutkan dengan monitoring dan pembangunan sarana oleh masyarakat.

Pemicuan perubahan perilaku di Kecamatan Pagelaran juga dilakukan melalui pendekatan religi yang disebut #JihadSanitasi. Dalam #JihadSanitasi yang dipelopori oleh Alm. H.  Bahrudin permasalahan sanitasi tidak hanya dipandang sebagai masalah kesehatan, tetapi sanitasi juga merupakan lading ibadah, yakni memerangi sanitasi buruk dianggap sebagai memerangi kedholiman.

Belajar dari keberhasilan di Kecamatan Pagelaran, Bupati Pringsewu – K.H. Sujadi – membuat kebijakan agar Kabupaten Pringsewu dapat mencapai kondisi ODF/ Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) pada akhir tahun 2017.  Lebih lanjut K.H. Sujadi menyampaikan bahwa ODF bukan hanya masalah kesehatan, melainkan juga masalah kemanusiaan dan itu merupakan ibadah. Dalam upaya mencapai kondisi tersebut, dengan dukungan Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) melalui program Voice For Change (V4CP), Bupati mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Bupati tentang “Gebrak ODF” (Gerakan Bersama Rakyat Kabupaten ODF)  untuk menggerakkan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Pringsewu.

Gebrak ODF yang dipimpin oleh Wakil Bupati Pringsewu – H. Fauzi –  mampu menggerakan seluruh elemen masyarakat, organisasi sosial dan keagamaan, maupun institusi pemerintah dari level desa hingga Kabupaten Pringsewu. Gebrak ODF mengantarkan Kabupaten Pringsewu menuju status kabupaten ODF pertama di Sumatra yang ditandai dengan penyerahan sertifikat ODF dari Kementerian Kesehatan yang disampaikan oleh Direktur Kesehatan Lingkungan – Dr.dr. Imran AgusNurali, SP.KO.

Advocacy Horizontal Learning (AHL) AKKOPSI 2018

Keberhasilan Kabupaten Pringsewu menuntaskan persoalan sanitasi dasar dengan pencapaian 100% akses jamban sehat, yang  merupakan kontribusi konkret dalam upaya pencapaian target universal (universal access) di Provinsi Lampung dan berkontribusi pada target nasional. Target tersebut juga dikenal dengan target 100-0-100, yaitu 100% akses sanitasi, 0% kawasan kumuh, dan 100% akses air minum.

Pada konteks inilah, Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) menilai pencapaian Kabupaten Pringsewu yang dipimpin oleh K.H. Sujadi yang juga merupakan pengurus AKKOPSI bidang pemberdayaan dan penguatan kapasitas harus dapat menginspirasi anggota AKKOPSI lainnya. Saat ini, 485 walikota/bupati telah bergabung sebagai anggota resmi AKKOPSI.

Aliansi ini secara aktif melakukan edukasi dan advokasi kepada para kepala daerah, termasuk kepada para gubernur di Indonesia. AKKOPSI memiliki posisi strategis dalam memfasilitasi anggotanya dalam berkomunikasi dengan pemerintah pusat di berbagai kementerian terkait, lembaga/program donor, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif AKKOPSI yang juga merupakan mantan walikota Payakumbuh – Josrizal Zain – mengatakan  “Forum Advocacy and Horizontal Learning (AHL) merupakan kegiatan rutin AKKOPSI di berbagai daerah. Dalam rangka mempercepat penyebaran praktik baik dan pembelajaran bagi para kepala daerah dan pelaku kunci yang peduli dan sungguh-sungguh mengupayakan pencapaian universal access di daerahnya”.

Lebih jauh beliau menjelaskan, “Pada kesempatan AHL di Lampung yang bertepatan dengan acara Deklarasi ODF Kabupaten Pringsewu ini, AKKOPSI memandang penting untuk memanfaatkan momentum ini sebagai wadah sharing session (berbagi pengalaman) antarkepala daerah dan pelaku utama.”

Pada kesempatan ini, Ketua Umum AKKOPSI wallikota Makassar, diwakili oleh Wakil Ketua AKKOPSI – Bupati Malang RendraKresna – turut serta dalam sesi berbagi pengalaman tersebut. Berbagai apresiasi dan tanggapan dalam pendalaman sesi AHL turut diberikan oleh pengurus AKKOPSI lainnya yang hadir, yakni Walikota Cimahi, Walikota Banjarmasin, serta para pejabat dari Kementerian Bappenas.

Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sangat antusias mengikuti acara berasama para kepala daerah di Lampung dan Sumatera Barat. Mereka mengakui ada banyak pembelajaran yang diperoleh dari pencapaian Kabupaten Pringsewu.

Facebook Comments