Thursday, July 19, 2018
Home > Sosok > Neni R Indriastuti : Guru Berprestasi Adalah Guru Yang Selalu Ditunggu Murid

Neni R Indriastuti : Guru Berprestasi Adalah Guru Yang Selalu Ditunggu Murid

Sosoknya mungil, berjilbab, ramah dan cantik, itulah Neni sapaan akrab dari perempuan pemilik nama lengkap Neni Retnoningtyas Indriastuti ini. Perempuan yang telah berusia tiga puluh enam tahun namun tampak awet muda ini, saat Puan.co mengunjunginya untuk wawancara, tengah berada di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 Merangin yang terletak di desa Pelakar Jaya, kecamatan Pamenang, kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

Neni memang berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 7 Merangin. Profesi ini dia geluti tepatnya sejak tahun 2006, dengan menjadi tenaga guru honor terlebih dahulu di SMP lain. Hingga kemudian pada tahun 2010, Neni mencoba peruntungan untuk diangkat menjadi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ternyata lulus tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta  rupiah.

Sebelumnya, Neni yang lulusan Sastra Indonesia Universitas Andalas ini, tidak pernah berpikir akan menekuni dan mencintai profesi guru. Akan tetapi, takdir berkata lain sejak dia lulus kuliah, kemudian pada tahun 2005 dia mencari rejeki sebagai guru bimbingan belajar di salah satu lembaga penyedia bimbingan belajar terkenal yang membuka cabang di kota Muara Bungo, Provinsi Jambi. Sejak saat itulah, Neni jatuh cinta dengan profesi guru.

Perjalanan panjang Neni setelahnya hingga menjadi guru bahasa Indonesia di SMP N 7 Merangin, menyebabkan Neni makin mencintai profesinya sebagai guru. Bahkan Neni mengatakan bahwa seandainya dia diberi kesempatan berkali-kali untuk memilih pekerjaan, dia akan tetap memilih profesi sebagai guru. “Inilah profesi yang saya cintai, bisa dekat dengan anak itu menyenangkan, apalagi jika dia lulus dan sukses jadi sarjana kemudian dapat undangan, aduh ! menyenangkan sekali rasanya,” begitulah tuturnya.

Dulu, Neni memang sempat menjadikan profesi guru yang digelutinya hanya sebagai alternatif pilihan, namun seiring waktu berjalan, keyakinannya justru memantapkan hatinya untuk menjadikan profesi guru sebagai jalan hidup. Menurutnya, guru itu tidak menginginkan apapun, baginya kebahagiaan seorang guru hanya ketika dapat menyaksikan anak didiknya sukses. Sebagai guru bahasa Indonesia, Neni telah membuktikan itu.

Kesuksesan Neni sebagai guru yang juga ternyata sebagai penulis perempuan di bidang puisi dan cerpen, maupun penulis naskah drama sejak duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, terbukti dengan banyaknya murid yang dibimbingnya dalam bidang yang sama dan memenangi kompetisi FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) tingkat provinsi. Murid-muridnya juga produktif menghasilkan karya di bidang tersebut, meskipun Neni justru tengah vakum berkarya saat ini.

Perempuan yang hobi membaca sejak Sekolah Dasar dan telah menamatkan buku epos Mahabaratha dalam kitab Bhagawad Gita ini, diam-diam memiliki catatan di dunia kepenulisan yang produktif sejak dari SMA hingga kuliah. Terhitung sudah puluhan judul cerpen maupun puisi yang telah dipublikasikan di beberapa koran lokal seperti Sarko Pos, Singgalang Pos dan lain-lain. Kebanyakan puisi maupun cerpennya tentang kisah perempuan maupun percintaan.

Sewaktu kuliah, Neni yang juga aktif di teater, produktif menghasilkan beberapa naskah drama untuk dipentaskan. Naskah dramanya merupakan gubahan dari beberapa judul puisi sastrawan terkenal. Beberapa cerpen maupun puisinya sempat masuk dalam penerbitan buku antalogi bersama penulis Jambi, juga penulis di Jawa. Saat ini Neni tengah vakum karena kesibukannya sebagai guru dalam hal administrasi juga mengurus rumah tangga. Sehingga Neni belum sempat untuk menyediakan waktu menulis dan berkarya kembali.

Disinggung mengenai suka dukanya dalam menggeluti profesi sebagai guru bahasa Indonesia, Neni menyebutkan bahwa sukanya bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang paling ditunggu anak, karena pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajara yang mengembangkan imajinasi, berbicara dan menulis. Namun dukanya masih banyak yang meremehkan pelajaran bahasa Indonesia.

Padahal belum pernah ada yang mendapatkan nilai Ujian Nasional tertinggi pada mata Pelajaran bahasa Indonesia, kecuali yang pernah terjadi di Yogyakarta dengan nilai 98.  Itu bukti bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia tidaklah gampang. Sebab mata pelajaran ini menurutnya  terkait dengan penafsiran. Bisa jadi penafsiran yang membuat soal dengan yang membaca soal dan mengerjakannya berbeda, sehingga sulit untuk mendapatkan nilai bagus dalam ujian bahasa Indonesia.

Tentang minat baca, Neni yang mengaku memiliki koleksi buku pribadi sebanyak kurang lebih dua ratus eksemplar dan kebanyakan fiksi ini, mengatakan bahwa memang minat baca di SMP tempatnya bekerja sangat minim. Disamping itu, buku-buku penunjang bacaan siswa juga kurang. Lokasi SMP yang berada di pedalaman daerah transmigrasi, juga menjadi kendala siswa untuk mencari buku.

Untuk mensiasati itu, Neni yang jika bepergian ke kota lebih memilih berbelanja buku, kerap  merelakan meminjamkan koleksi buku pribadinya meskipun hanya pada lima orang anak yang dianggapnya dapat dipercaya ketika meminjam buku. Maklum, katanya buku jika tidak selektif dalam meminjamkan, sering hilang. Disamping itu, adanya program literasi setiap pagi di sekolah yang mewajibkan siswa membaca setiap pagi, Neni memiliki kiat tersendiri.

Melalui program tersebut, Neni mendorong siswa untuk mencari bahan bacaan ringan seperti dongeng ataupun cerpen. Bacaan ringan ini agar siswa merasa fresh ketika mengawali hari. Meskipun pada kenyataannya, bacaan yang didapat dan dibaca siswa justru merupakan bacaan yang bukan untuk sekelas anak SMP, melainkan SD, namun yang ada hanya itu. Neni memandang, cukuplah hal tersebut sebagai kegiatan yang membiasakan siswa untuk membaca.

Strategi lain yang diterapkan Neni untuk mendorong minat baca bagi anak-anak di daerah pedalaman transmigrasi yang memang kurang, yaitu melalui film. Neni kerap membahas beberapa film  maupun sinetron yang disadur dari buku kepada siswanya di sekolah. Melalui adanya film tersebut, Neni mengajak siswanya untuk juga membaca buku yang difilmkan tersebut dengan himbauan bahwa cerita di buku lebih menarik daripada di film.

Neni juga memberikan pengertian kepada siswanya, bahwa bahasa visual belum ada apa-apanya dibandingkan dengan bahasa buku yang lebih membangkitkan imajinasi dan kekayaan batin. Namun, sekali lagi terkadang kendala ketersediaan buku menjadi penghalang bagi siswanya untuk lebih mencari pendalaman lewat buku.

Mengenai fenomena media sosial abad ini, sebagai guru bahasa Indonesia, Neni juga merasakan keprihatinan dan keresahan. Seperti diketahui bahwa di media sosial banyak berkembang tulisan alay dibandingkan dengan tulisan bahasa Indonesia yang benar. Menurutnya, fenomena ini menyebabkan anak-anak mengalami krisis identitas. Hal ini berpengaruh hingga saat menulis di kelas. Maka dari itu, Neni berusaha memberikan contoh menulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik di Media sosialnya.

Pada tahun 2018 ini, untuk yang kedua kalinya Neni mendapatkan penghargaan sebagai juara ke tiga guru berprestasi tingkat kabupaten Merangin. Neni mengaku bahwa kepala sekolah yang mendaftarkannya untuk kedua kalinya. Neni sendiri justru memiliki pemikiran yang berbeda mengenai guru berprestasi. Menurutnya, guru berprestasi bukan soal berapa piala yang didapat, namun guru berprestasi adalah guru yang selalu ditunggu siswanya.

Oleh karena itu, bagi Neni, mendapatkan gelar sebagai guru berprestasi sampai dua kali, bukanlah pencapaian yang menjadi fokusnya. Neni mengungkapkan, bahwa sejatinya pencapaian dan prestasi guru adalah bagaimana membuat anak senang dan semangat dengan mata pelajaran yang diajarkannya, kangen jika guru tidak datang. Maka dari itu, Neni tidak bangga ditasbihkan sebagai guru berprestasi tingkat kabupaten.

Sekali lagi ditekankan oleh Neni bahwa menjadi guru berprestasi tingkat kabupaten bukan pencapaiannya. Atas hal ini Neni memberikan kritik, bagaimana bisa ditasbihkan sebagai guru berprestasi dengan alur waktu penjurian dan perlombaan hanya dua atau tiga hari. Menurut Neni, ini bukan sesuatu yang hebat.  Sekedar diketahui bahwa dalam kompetisi ini, guru hanya dinilai dari tes tertulis, IT dan kepribadian. Namun aspek profesionalnya tidak dinilai.

Mengakhiri wawancara, Neni berpesan kepada pembaca Puan.co, bahwa perempuan di hari ini seharusnya tidak memiliki keterbatasan dalam menjadi apapun dan berprofesi sebagai apapun. Sebab pendidikan telah berkembang, era telah berbeda. Meskipun kebanyakan perempuan memilih berprofesi sebagai guru, namun tidak dimungkinkan untuk profesi apapun digeluti oleh perempuan demi mengembangkan bangsa dan negara.

Nama : Neni Retnoningtyas Indriastuti
Umur : 36 Tahun
Status : Menikah
Anak : 2 orang
Berat badan : 57 kg
Sekoah :
  • SD SPB Pamenang, Merangin Jambi
  • SMP 11 Merangin Jambi
  • SMA N 1 Merangin (SMA di B3 Pamenang)
  • Sastra Indonesia Universitas Andalas, Sumatera Barat
Profesi : Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
Karya : 50 puisi dan 10 cerpen yang diterbitkan di koran lokal Jambi maupun Sumatera Barat, 2 antalogi puisi  bersama penulis Jambi maupun Jawa
Media Sosial : FB @Neni R Indriastuti

 

Facebook Comments