Thursday, June 21, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Sambut Keberkahan Ramadan

Sambut Keberkahan Ramadan

Adakah kita merasa tak pernah melakukan salah dan dosa? Atau justru kita sadar tak satu hari pun bisa kita lalui bebas tanpa dosa? Sudah berapa banyak pahala dari amal saleh yang sudah kita lakukan? Berapa banyak hajat kita yang belum berhasil diraih?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin jarang terlintas di benak kita. Mungkin pertanyaan berikut yang lebih sering muncul.

Mengapa hidup saya terasa berat dan penuh cobaan? Kapan saya akan bertemu jodoh dan menikah? Bagaimana caranya supaya bisa bahagia dengan pasangan dan puas dengan kerjaan? Mengapa saya belum dikaruniai anak, padahal sudah lama menikah? Kapan saya kaya dan sukses?

Semua pertanyaan tersebut sebenarnya bisa dijawab dengan mudah. Alhamdulillah saat ini kita sedang kedatangan tamu istimewa Ramadan Mubarak ‘diberkahi’. Sebutan Mubarak bukan sekedar istilah popular yang tanpa dalil. Rasulullah menyebut dalam sabdanya: “Telah datang pada kalian Ramadan Mubarak.

Di bulan itu Allah mewajibkan puasa, pintu langit dibuka lebar, pintu neraka dikunci rapat, para setan dibelenggu, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang terhalangi memperoleh kebaikan Ramadan, maka dia sungguh merugi (H.R. An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah).

Berkah Ramadan sendiri meliputi: (1) Bazar ampunan, (2) Kelipatan pahala, dan (3) Doa yang diijabah Allah SWT.

Bazar Ampunan

Manusia tidak pernah luput dari dosa dan berbuat salah. Siapa sih yang tidak pernah berbuat salah, baik pada Allah maupun pada sesama manusia? Sesungguhnya sadar bahwa kita telah berbuat salah lebih baik daripada tidak merasakan pernah berbuat salah.  Namun, Allah yang Maha Pengampun memberikan kemudahan bagi manusia untuk meminta ampunan-Nya. Di bulan Ramadan inilah pintu maaf-Nya dibuka selebar-lebarnya. Sabda Rasulullah: “Salat fardu ke salat fardu berikutnya, Jumat ke Jumat berikutnya, Ramadan ke Ramadan berikutnya merupakan pelebur dosa-dosa hamba selama dosa besar dijauhinya.”

Dengan berpuasa dan menahan hawa nafsu, otomatis kita menjauhi sebanyak mungkin peluang berbuat dosa. Bonus tambahannya adalah dengan dimaafkan dan diampuninya dosa-dosa kita yang lalu. Rasulullah juga bersabda: “Siapa yang berpuasa atas dasar iman dan ikhlas karena Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (Muttafaq ‘alaih). Dalam hadis lain, “Siapa yang berpuasa atas dasar iman dan ikhlas karena Allah maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Pahala yang berlipat

Lebih banyak mana, pahala atau dosa? Umur makin bertambah, apakah kita siap jika dipanggil oleh-Nya kapan saja? Jika di bulan-bulan lain kita seringkali lalai melakukan amal ibadah dan sedikit berbuat kebaikan, di bulan mubarak inilah saat yang tepat untuk melipatgandakan pahala. Jika merasa amal kita masih minim dan lebih banyak menumpuk dosa, di bulan inilah saatnya kita menyerahkan diri kepada Allah SWT untuk melakukan amal ibadah dan mendapatkan berkah-Nya. Bahkan, di salah satu harinya di bulan Ramadan, yaitu Lailatul Qadr – malam 1000 bulan –, Allah memberikan kesempatan kepada semua hamba-Nya untuk melipatgandakan amal kebaikan. Bukankah kita sendiri yang rugi jika melewatkannya?

Imam Ibnu Huzaimah dalam shahih-nya (no. 1887) meriwayatkan hadis: “Hai manusia, sungguh telah datang bulan yang agung kepada kalian, bulan yang di dalamnya ada  satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah wajibkan berpuasa di bulan tersebut, menghidupkan malamnya sebagai amal kebaikan. Siapa yang melakukan amal kebaikan, (sunnat) laksana ia menunaikan amal wajib di bulan lain, siapa yang menunaikan ibadah wajib laksana tujuh puluh amal wajib di bulan lain.” Ibrahim an-Nakha’i, tokoh generasi Tabi’in, juga menyatakan kelipatan seribu berbanding satu bagi setiap aktivitas kebaikan antara Ramadan dibanding sebelas bulan lainnya.

Kepedulian pada sesama juga diganjar dengan pahala berlipat. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Siapa yang memberi konsumsi untuk berbuka orang yang berpuasa akan diberi pahala serupa mereka yang berpuasa tersebut tanpa sedikit pun mengurangi pahala mereka.” (HR. At-Tirmidzi, dinyatakannya hadis sahih).

Masihkah kita mengabaikan kesempatan ini?

Doa yang dikabulkan

Banyak hajat? Banyak keinginan? Banyak kebutuhan? Tahukah kalian bahwa Allah mengabulkan doa-doa hamba-Nya yang meminta di bulan ini.

“Sesungguhnya doa orang berpuasa yang dipanjatkan saat ia berbuka tidak ditolak Allah.” (H.R. Ibnu Majah). Hadis lainnya “Sesungguhnya doa orang muslim siang dan malam (Ramadan) mustajab” (HR. Al-Bazzar, dinilai sahih lighairih oleh Albani).

Doa yang baik dan sungguh-sungguh, insyaallah akan dikabulkan-Nya. Maka, berdoalah sesering dan setulus mungkin, berdialoglah langsung kepada Allah, percayalah bahwa Dia  mendengar semua doamu, keluh-kesahmu, keinginan-keinginanmu. Hanya Dia yang tahu mana hal yang baik untukmu.

Demikianlah keberkahan-keberkahan bulan suci Ramadan. Selayaknya “tamu istimewa” maka sepantasnya “dia” diperlakukan dengan cara istimewa: disambut dengan penuh suka cita dan dibuat senang sehingga ketika berpisah kita diliputi oleh rasa haru, sedih, berat hati, dan kerinduan untuk bersua kembali. Siapa yang gembira dengan hadirnya bulan Ramadan, Allah haramkan jasadnya disentuh api neraka.

“Sudah siapkah Anda menerima keberkahan Ramadan?”


Biodata Penulis

Samia Elviria, M.A., Dosen LB Prodi Ilmu Komunikasi STISIP Nurdin Hamzah Jambi.

Facebook Comments