Tuesday, October 16, 2018
Home > Literasi > Cerita > Schatzi

Schatzi

Schatzi, kemari!

Schatzi, jangan pergi!

Aku banyak membuatmu sedih.

Maafkan aku!

Aku nggak akan bisa, hidup tanpamu.

Dan aku tak mau.

 

Bait per bait lirik lagu Slank mengalun indah di kamarku. Membawaku menerawang jauh ke dalam rentetan peristiwa yang kulalui bersama laki-laki, yang kini aku tak tahu di mana keberadaannya. Laki-laki yang dapat membuatku begitu terkagum-kagum karena kepribadiannya. Laki-laki yang dapat membuatku merona karena bahagia dan meneteskan air mata untuk setiap kepahitan yang diberikannya.

Dulu, sebelum aku merentas hari untuk sesuatu yang kusebut sebagai tujuan, aku pernah berpikir melabuhkan hati pada sebuah nama. Ternyata itu hanya membawaku pada sebuah keterpurukan. Cukup lama rentetan waktu yang kuhabiskan hanya untuk bercengkerama dengan sepi yang menyelimuti diriku dalam malam hingga dinding kokoh hatiku takkan mampu disentuh siapa pun.

Tet..tet..teeeeeeeeeett..

Suara bel,membuyarkan lamunanku.

“Ya, bentar “ ucapku sembari tergesa-gesa membukakan pintu apartemenku.

Dari lubang pintu, kulihat seorang lelaki dengan wajah tertutup beberapa kuntum mawar putih. Jantungku berdegup kencang. Firasatku mengatakan sesuatu. Kuhentakkan handel pintu. Aku tahu siapa yang berdiri tepat di hadapanku.

Wajah yang sudah lama tak kulihat, baik dalam mimpi maupun lamunan. Masih dengan mimik serius yang dimilikinya ditambah sebingkai kacamata menyembunyikan keteduhan matanya. Masih dengan gaya berpakaian serta tatanan rambut yang sangat kukenal. Sejak awal meski ditutupi dengan mawar putih, aku tahu persis cuma lelaki itu yang tahu tentang rahasia mawar putih dan anganku.

Aku menatapnya penuh tanda tanya, ia membalasnya dengan seulas senyum.

“Hai, apa kabar?” tanyanya sembari tak jua melepas senyum manisnya itu.

Aku tak tahu harus memberi jawaban seperti apa untuk pertanyaan yang ia ajukan. Aku masih membenahi pikiran agar bisa percaya kalau lelaki itu ada di sini. Bahwa ia menyapaku dengan suara yang dulu sempat menjadi nyanyian dalam jiwaku.

“Baik, ng ng ng…kok bisa tahu kalau aku ada di sini?”

“Emmm, mungkin kaulupa bahwa aku pernah mengatakan bahwa aku adalah bayangan bagimu,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Ya, dulu  ia pernah mengatakan itu. Itu dulu sekali, dan tahun demi tahun telah kulewati, dan tentu saja tanpa bayangannya di sisiku.

“Iya, tapi aku masih saja bingung. Dari mana kau bisa tahu keberadaaanku” jawabku dengan raut wajah yang sulit digambarkan.

“Itu mungkin tak terlalu penting, yang penting aku membawakan ini untukmu, Yun,” ujarnya sambil menyodorkan jambangan mawar putih yang dari tadi ia pegang. Lalu aku menerimanya, juga masih dengan perasaan yang aku sendiri tidak bisa mengerti.

“Aku ingin kita dapat saling bercerita tentang hidup dan mimpi yang tidak lagi dapat kita bagi selama ini,” tambahnya.

“Yang ku tahu, kau sudah hidup di kota ini. Aku mengikuti perkembanganmu dari berbagai novel best seller yang kau tulis. Kudengar kau juga menjadi editor di sebuah percetakan ternama. Wah, selamat ya, Yun!” ucapnya  beruntun, tanpa menyisakanku waktu untuk menjawabnya. Aku tersenyum, mendengarkan setiap ucapannya.

“Ah, ini hanya persoalan sebuah keberuntungan saja,” jawabku.

“Ya sudah, nanti malam kujemput untuk makan malam bersamaku. Aku ingin kau tak menolak tawaran dari seorang teman lamamu ini,” ucapnya.

Hanya sebuah anggukan yang dapat kuberikan, sambil menerima sebuah kartu nama yang di dalamnya tertera nomor telepon genggamnya.

“Bisa aku minta nomor teleponmu?”

Akhirnya, kusebutkan deretan angka-angka. Kulihat ia berlalu dengan sebuah senyuman. Persis dulu, ia pun berlalu dari hidupku dengan sebuah senyuman. Ia juga pernah datang bersama senyuman hingga akhirnya beranjak dariku juga dengan sebuah senyuman.

Sesaat setelah kepergiannya, kututup pintu apartemenku. Kuletakkan kuntum-kuntum mawar putih itu, tepat di sebuah meja kecil di ruang tamu. Ia memang pandai memberikanku kejutan dengan hati yang tak bisa kutebak. Akan tetapi mungkin kali ini, aku tidak pernah berharap kejutan apa pun, termasuk kehadirannya di depan pintu apartemenku beberapa menit yang lalu. Kuhempaskan tubuhku ke ranjang, yang tiba-tiba saja menjadi mati rasa. Semua rasa itu bergabung dalam molekul senyawa hingga yang kurasakan hanya ringan dan kosong. Lalu aku mengeja perasaanku dengan ketakpercayaanku. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Sebuah nomor tanpa nama, namun aku tahu dengan pasti siapa yang menelepon.

“Ya, Halo.”

“Ini Yuni, kan?” sahut suara di seberang sana.

“Iya, maaf ini siapa ya?”jawabku sedatar mungkin. Pertanyaan itu kuajukan agar ia tak tahu bahwa meski dalam jangka waktu selama ini tak mungkin aku bisa melupakan suara yang dulu pernah membuat hatiku bergetar.

“Ini  Fajar. Nanti malam kujemput jam setengah delapan ya!”

“O, ya, nanti SMS saja kalau sudah mau ke sini,” jawabku seadanya.

Seperti biasa, ia pun terdiam. Hingga akhirnya melepaskan kesunyian untukku, untuk hidupku dan mimpi-mimpiku. Beberapa saat hanya hening.

“O, ya sudah. Sampai nanti.”

“Oke,” itu ucapan terakhirku, sebelum akhirnya telepon itu ditutup.

Entah mengapa kehadirannya kali ini teramat hambar. Bukankah dulu aku memang menyukai segala kemisteriusan yang ia miliki? Setiap kejutan yang ia buat memiliki makna khusus, tetapi tidak untuk kejutan kali ini. Aku benar- benar tak lagi dapat berdamai dengan hatiku, hati yang terlanjur ia buat berdarah untuk sepotong harapan yang dulu sempat ia campakkan.

“Melupakanmu, dengan membuat kosong hatiku itu teramat sulit. Benar-benar sulit, tapi aku kembali bersyukur untuk apa yang telah kudapatkan saat ini membawaku menemui hari yang tak pernah kubayangkan.”

Aku masih mematut diri pada pantulan cermin mengenakan pakaian yang telah lama kusimpan di lemari dengan tatanan rambut yang mungkin tak pernah lagi menghias setiap helaian hitam di kepalaku. Masih kulihat wajahku, persis beberapa tahun yang lalu aku pernah berdandan untuknya dengan pakaian yang sama, dengan gaya rambut yang sama, dengan make up yang sama, dan tentu saja dengan warna lipstik yang dulu pernah ia sukai.

Kuarahkan pandanganku, tepat di sebuah jam kecil di sudut ruangan. Setengah delapan kurang lima menit, dan kembali kudengar handphoneku berbunyi. Sekilas kulihat pesan singkat di sana.

“Aku di perjalanan, lima menit lagi aku sampai. Tunggu ya!”

Ku balas singkat. “Ya, aku tunggu.”

Tak berapa lama, kudengar sebuah ketukan. Langkah kakiku tergesa membukakan pintu. Tepat, pintu apartemenku terbuka. Aku melihatnya mengenakan paduan jeans dan selembar kemeja lengan panjang. Sama, persis saat pertama kali ia mengajakku kencan beberapa tahun lalu. Lama, kami pun  saling berpandangan dan memasuki dimensi lain yang penuh rasa hangat.

“Yuk, sudah siap kan!” ucapnya mencairkan kebekuan yang terjalin antara kami.

“Iya” ucapku.

Kami lalu berjalan beriringan, kulihat ia ragu menggenggam tanganku. Sekilas, aku tersenyum dan menghapus keraguan. Tanganku tiba-tiba saja berada dalam genggamannya. Masih sama, tak ada yang berubah. Aku merasakan getaran yang sama, kehangatan yang sama seperti pertama kali ia menyentuh jemariku.

Kami tiba di tempat yang ia janjikan. Tempat yang dahulu sering kami datangi untuk meluapkan waktu untuk sekedar bercerita bahkan menangis bersama. Dengan lekas kami duduk saling berpandangan.

“Sebuah kesalahan terbesar bagiku karena membiarkanmu memilih jalanmu sendiri. Atas sebuah kesalahan itu, aku membiarkan jiwaku mengembara mencari sepotong hati yang sempat kucampakkan. Butuh waktu dan keberanian untuk menemuimu kembali. Kau tahu itu, aku mengumpulkan semuanya untuk dapat menemuimu malam ini. Aku mempertaruhkan segalanya, termasuk keegoisanku yang dulu pernah menyakitimu,” ungkapnya.

Aku memahami setiap kata demi kata yang ia ucapkan dalam keheningan.

“Kau salah, jika selama ini kau berpikir aku mengacuhkanmu. Kau tahu aku mengikutimu dari setiap hasil karyamu. Aku terus mengikutimu dalam setiap harimu, dan aku memikirkanmu sejauh yang mungkin tak kaupikirkan,” tambahnya.

Entah apa yang kurasakan, saat ia mengucapkan kata terakhir itu. Aku benar-benar baru tersadar dari mimpi yang kubangun selama ini. Aku berusaha manata satu-persatu kepingan hati yang terluka.

“Mungkin aku terkejut dengan kedatanganmu yang tiba-tiba. Dan aku masih belum tahu apa yang kurasakan saat ini, aku bahagia tentu saja aku sangat bahagia. Akan tetapi, ah, aku tak tahu.” Hanya itu yang sanggup kukatakan mengungkapkan kegamangan yang menjalariku perasaanku selama ini.

“Aku tahu ini rumit, aku mencintaimu memang dengan cara yang terkadang sulit kaupahami.”

Tiba-tiba telingaku seperti tersekat mendengarkan itu dan kembali yang kunikmati tanpa rasa.

“Terlalu lama, aku hilang dalam ingatanmu. Bukan mudah untuk menyakini hati yang terlanjur kukecewakan. Sekali lagi ku katakan aku mencintaimu dengan cara yang terkadang sulit untuk dipahami,” ungkapnya.

Dulu, ia sengaja menyudahi perasaannya, berharap aku dapat menanggapinya. Saat ini semuanya menjadi tak berarti lagi.

“Kau tahu berapa lama aku belajar melupakan sebuah harapan? Kau tahu bagaimana rasanya lari dari bayangan yang kauciptakan sendiri? Lelah dan teramat lelah. Hingga tiba- tiba bayangan itu hidup dan nyata kembali. Apa yang dapat kau perbuat dengan keadaanku? Begitu mungkin yang kurasakan saat ini. Tolong jangan persulit aku dengan kerumitan yang kauhadirkan!” ucapku menahan isakan yang tiba- tiba bergerumuh di dalam dada.

“Jadi, kau tidak bisa menerima sebuah harapan yang kuberikan ini?” tanyanya.

“Kau memiliki sebuah cinta yang tidak dapat kupahami. Biarkan saja cinta itu berlalu dan meninggalkan sebuah luka yang mungkin juga tidak dapat kau pahami! Aku tak pernah bisa mengerti akan perasaan yang kau berikan. Apakah aku harus menerima rasa yang tidak kumengerti itu?” ucapku perlahan menegaskan semuanya.

Yang tercipta selanjutnya hanya kebisuan. Kini hari-hariku masih tetap sama: tanpa sebuah cinta yang tak dapat kumengerti.

Facebook Comments