Thursday, July 19, 2018
Home > Lingkungan > Apa Dampak Septic Tank Yang Tidak Disedot Lebih Dari Lima Tahun?

Apa Dampak Septic Tank Yang Tidak Disedot Lebih Dari Lima Tahun?

Tahukah anda apa yang terjadi jika septic tank di rumah kita tidak disedot selama lebih dari kurun waktu lima tahun ? Urban Sanitation Specialist SNV Indonesia dalam Training Survey kajian teknis cepat (Rapid Technical Assessment) sanitasi di hotel Horison Lampung beberapa waktu lalu mengungkap, bahwa jika septic tank tidak disedot lebih dari lima tahun akan mengalami kebocoran. Disamping itu, air tinja yang ada di dalamnya akan meresap dan mencemari air tanah.

Fakta diatas menurut Nyoman Suartana yang hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, memang belum banyak diketahui oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan anggapan umum yang ada di masyarakat bahwa septic tank yang kondisinya baik adalah septic tank yang tidak pernah disedot.  Sehingga, penyedotan lumpur tinja dalam hal ini belum menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat.

Padahal, kondisi yang menyebabkan pencemaran air tanah ini akan menimbulkan dampak yang banyak bagi kesehatan masyarakat. Salah satunya yaitu dapat menimbulkan diare dan stunting atau kekerdilan pada anak. Sebagaimana diungkapkan oleh Nyoman, bahwa enam puluh tujuh persen peyebab stunting karena lingkungan yang tidak sehat, salah satunya adalah karena air dan sanitasi yang buruk.

Oleh karena itu menurut Nyoman, perlu ditekankan kepada masyarakat dan semua pihak yang peduli terhadap permasalahan sanitasi dan dampaknya bagi kesehatan ini yaitu berupa adanya sistem pengelolaan lumpur tinja yang aman, juga yang dapat menjamin limbah tinja yang dihasilkan oleh rumah tangga agar dapat diangkut serta diolah secara aman.

Maka sebagai langkah awal, SNV Indonesia melalui Program Air dan Sanitasi untuk Pencapaian Pembangunan Berkelanjutan (WASH SDGs) bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS), menyelenggarakan Survei Kajian Teknis Cepat (Rapid Technical Assessment) Sanitasi di Kota Bandar Lampung dan Kota Metro, Provinsi Lampung. Kajian ini bertujuan untuk memberikan informasi awal terkait kondisi sistem sanitasi setempat yang meliputi jenis toilet dan penampungannya, akses untuk penyedotan, pengangkutan dan pengolahan lumpur tinja di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).

Febrilia   Ekawati selaku Direktur YKWS pun menjelaskan bahwa Rapid Technical Assessment   yang dilakukan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas di Lampung. Kegiatan ini selain untuk  mengidentifikasi kondisi teknis sanitasi, pelibatan mahasiswa juga dimaksudkan untuk mendorong kaum muda peduli terhadap permasalahan sanitasi.

Pada bagian akhir paparannya, Nyoman menegaskan bahwa hasil kajian ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah kota untuk membangun dan menyusun rencana guna meningkatkan kualitas pengelolaan lumpur tinja di kota Bandar  Lampung dan Metro. (Elviza Diana/Wenny Ira W)

Facebook Comments