Thursday, July 19, 2018
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Bertualang Menuju Air Terjun Nilo Dingin Merangin

Bertualang Menuju Air Terjun Nilo Dingin Merangin

Berpetualang Menuju Air Terjun Nilo Dingin Merangin

Kabupaten Merangin yang secara geografis terletak di sebelah barat Provinsi Jambi, kontur alamnya didominasi oleh perbukitan dan pegunungan serta luas hutan alam tutupan. Tak heran jika kabupaten ini memiliki sumber daya alam yang potensial untuk penghidupan maupun pariwisata, serta lainnya. Namun, kendatipun demikian dalam bidang pariwisata yang mengandalkan alam, belum banyak yang dieksplorasi agar dikenal oleh masyarakat luas.

Salah satu air terjun yang terletak di desa Nilo Dingin misalnya, belum begitu diketahui oleh masyarakat luas. Air terjun ini baru diketahui oleh beberapa orang yang tinggal di dusun Sungai Tebal, kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Orang-orang yang mengetahuinya hanya orang yang tinggal di perbukitan Sungai Tebal yang kini beralih fungsi menjadi kebun kopi.

Tak banyak orang yang mengunjungi air terjun Nilo Dingin yang belum terekspos ini. Letak air terjun kiranya juga menjadi kendala utama. Sebab letaknya benar-benar di lembah yang diapit oleh gunung Masurai dan gunung Nilo Dingin. Untuk menuju ke lokasi air terjun pun harus mendaki bukit terjal yang kontur jalannya banyak didominasi oleh bebatuan, galaran motor trail petani kopi, sungai-sungai kecil  dan besar, serta kebun kopi.

Redaksi Puan.co tertarik untuk menuju air terjun Nilo Dingin pada hari ke tiga hari raya Idul Fitri 2018. Dibantu oleh penduduk yang tinggal di kebun kopi, kita berangkat menuju air terjun Nilo Dingin lewat jalur sungai Nilo yang berada di dalam kebun kopi. Melalui jalur ini yang dihadapannya terdapat gunung Nilo, kita menyusuri pinggir sungai yang berair deras dan berbatu-batu besar serta terjal. Kita pun harus menaklukkan tebing sungai Nilo yang terdiri dari belukar, bebatuan, duri dan tanaman lainnya.

Perjalanan menaklukkan tebing sungai Nilo ini belum berakhir meskipun kita telah naik bukit lagi ke wilayah kebun kopi yang dihadapannya kini terdapat gunung Masurai. Sebab untuk benar-benar mencapai lokasi air terjun Nilo, kita masih harus menuruni tebing curam yang sempit dan banyak ditumbuhi tanaman berduri. Salah melangkah sedikit saja kita bisa langsung terjun bebas ke sungai yang banyak jeram-jeramnya.

Diperlukan waktu berjalan kaki sekitar satu jam setengah dari sungai Nilo ke lokasi air terjun Nilo. Dan untuk menuruni tebing curam yang sempit ke lokasi air terjun dibutuhkan waktu sekitar lima belas hingga tiga puluh menit tergantung dari kepiawaian menaklukkan tebing. Agar diingat, pulangnya pun nanti kita harus menaiki tebing curam ini untuk dapat selamat menuju kebun kopi.

Setelah turun dari tebing, tantangan berikutnya adalah menyusuri pinggir sungai yang berjeram. Kita pun harus melalui dinding sungai yang hanya menyediakan kayu-kayu mati sebagai titian yang dibawahnya sudah merupakan sungai dengan kedalaman cukup lumayan. Sesampainya di sekitar air terjun, kita harus melewati batu-batuan cukup besar dengan riak air cukup deras.

Namun kelelahan serta sulitnya jalan menuju air terjun Nilo cukup terbayarkan ketika telah sampai di hadapan air terjun Nilo yang bagai tercurah dari terowongan raksasa. Air terjun Nilo tercurah dari jalur yang diapit dua bukit kebun kopi.  Sebab kesejukan serta kejernihan airnya lumayan menyegarkan dan membuat rileks. Begitu juga rintik embun yang dihasilkan oleh air terjun.

Air terjun Nilo memang hanya terdiri dari satu tingkat saja, namun aliran jeram dibawahnya terdiri dari tiga hingga empat tingkat yang didominasi oleh bebatuan besar-besar.  Sayangnya bebatuan disekitar air terjun agak licin karena banyak ditumbuhi lumut. Sedikit orang yang memang berjiwa petualang bersedia datang ke air terjun. Penduduk sekitar memanfaatkannya untuk mencari ikan di sela bebatuan air terjun dengan cara memberi obat merek Potas.

Disarankan yang ingin mengunjungi air terjun ini untuk membawa peralatan seperti parang yang akan berguna untuk menebas semak belukar ketika menyusuri tebing, juga membawa tali tambang untuk berjaga-jaga ketika menuruni tebing. Jika tidak repot juga disarankan membawa persediaan air serta makanan yang cukup, karena lokasi air terjun jarang terdapat warung.

Untuk persediaan air jika habis, kita dapat memanfaatkan air segar yang mengucur dari batu-batu alami sungai, atau dapat juga meminta ke rumah-rumah warga yang kita temui ketika dalam perjalanan pulang. Warga disekitar kebun kopi cukup ramah bila dimintai air minum, bahkan beberapa memang ada yang menyediakan air putih untuk orang yang singgah dari perjalanan.

Keasyikan perjalanan menuju air terjun Nilo tidak hanya ketika sampai di air terjun saja. Pulangnya, kita dapat mencari tanaman sayuran maupun buah-buahan yang ada di kebun. Tanaman selada air misalnya, dapat kita ambil gratis karena tumbuh liar di beberapa titik perjalanan pulang. Begitu juga buah-buahan seperti jambu biji merah. Kita juga akan disuguhi pemandangan luar biasa tentang kehidupan disekitar lembah Masurai dari beberapa lokasi yang tinggi.

 

Facebook Comments