Sunday, August 19, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Budaya Malu Jaman Now

Budaya Malu Jaman Now

Sulit dibantah jika ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa masyarakat kita kini telah dihinggapi pola sikap permisif, yakni suatu sikap yang mengiyakan dan menganggap semua hal serba boleh dilakukan atau suatu sikap yang barangkali kelihatan menjunjung kebebasan sejati. Namun jika ditilik lebih jauh, malah menjadi penyubur kerusakan moral masyarakat dan bangsa. Misalnya saja, perilaku masyarakat yang suka mengumbar hidupnya di media sosial, seperti yang sedang tren saat ini. Banyak ditemukan upload-an foto diri ataupun curhatan yang berseliweran di media sosial, baik hal positif maupun negatif. Eksistensi diri pun menjadi alasan kecuekan. Stigma “semakin cuek / semakin terbuka akan kehidupan, maka akan semakin eksis” mulai merajai sanubari.

Sahabat Puan, budaya cuek ini berjalan seiring dengan menipisnya rasa malu dalam kehidupan masyarakat kita. Seharusnya malu adalah suatu perasaan yang timbul bilamana telah melakukan sesuatu yang hina, tidak baik, cacat, dan rendah dipandang masyarakat, kebiasaan, adat, dan agama. Perasaan seperti inilah yang kelihatan semakin hari semakin langka di kehidupan kita saat ini.

Kita merasa aman-aman saja ketika melakukan kemaksiatan dan dosa. Kebohongan, penipuan, penganiayaan, dan kemesuman merupakan menu yang hampir selalu tersaji di hadapan kita. Semua perbuatan “yang tak tahu malu” ini pun telah dilakukan secara kasat mata menembus segala penjuru dan lapisan di masyarakat kini. Hal baik atau positif menjadi semakin tenggelam dan digantikan oleh gambaran akan keburukan yang terlihat makin biasa saja.

Manakala rasa malu telah hilang, semua perbuatan buruk akan semakin merajalela tak terkendalikan. Perilaku “semau gue” atau “urat malu sudah putus” pada akhirnya membuat kita takpeduli walaupun telah melanggar semua aturan. Atas situasi kebablasan seperti ini Alquran memperingatkan, yakni

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Fussilat, 41: 40)

Hal senada juga pernah disabdakan oleh Rasulullah Saw

Abu Mas’ud, Uqbah ibn Amr Anshari al-Badri ra mengatakan bahwa Rasulullah Saw berkata, “Ucapan kenabian yang paling awal diketahui manusia adalah jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apapun yang kamu mau,” (H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Ahmad).

Sahabat Puan, jangan keliru memahami pernyataan hadis di atas! Hadis tersebut bukan berarti Rasulullah mengizinkan kita untuk berbuat semaunya, namun merupakan sindiran bagi mereka yang dengan rasa bangga melakukan kemaksiatan, kejahatan, dan dosa. Hadis tersebut juga sekaligus merupakan ancaman bagi mereka yang tidak mempunyai rasa malu dengan melakukan apa saja yang dikehendakinya, dengan tidak menghiraukan batasan dan larangan agama.

Mereka akan menanggung risiko siksa dan azab Allah atas perbuatannya tersebut. Seperti halnya seorang ibu yang kesal karena saran atau omongannya sudah tidak didengar atau dilakukan anaknya dengan berkata, “Terserah kau lagilah”. Ungkapan tersebut bukanlah sebuah perintah atau suruhan, melainkan sebuah sindiran atau kekesalan, sekaligus ancaman atas sikap ngeyel anaknya.

Apabila situasi dan berbagai perilaku buruk telah menjadi tradisi dan “dilegalkan” oleh sebagian masyarakat, perintah dan larangan semakin diabaikan, maka sebenarnya ancaman kehancuran telah muncul di hadapan kita. Sabda Nabi Saw

“Ketika dendam dan kedengkian telah merasuk ke dalam hati suatu kaum, maka Allah akan semaikan rasa takut ke dalam hati mereka. Ketika perbuatan zina telah menyebar dalam kehidupan suatu kaum, maka akan semakin banyak kematian. Tatkala suatu kaum telah mengurangi sukatan dan timbangannya, maka Allah putuskan anugrah rezeki kepada mereka. Apabila suatu kaum telah menjalankan hukum dengan tidak benar, maka Allah akan banjiri kehidupan mereka dengan darah. Jika suatu kaum melanggar amanat dan janji yang mereka buat, maka Allah berikan kekuasaan kepada musuh untuk menaklukan mereka.”

Rasa malu dapat mencegah kita untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nurani. Rasa malu pula yang membuat kita akan dikejar-kejar rasa bersalah. Jadi, sebenarnya malu merupakan salah satu perangkat yang diciptakan Allah untuk mencegah kita dari perbuatan dosa. Sabda Nabi Muhammad Saw, “Malu itu hanya akan membawa kebaikan.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasa malu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga sendi-sendi dan bangunan iman kita agar tidak tercerabut dan hancur. Rasa malu juga merupakan gambaran dari keimanan. Dalam suatu kesempatan, Rasulullah juga bersabda, “Iman adalah satu kumpulan yang memiliki enam puluh cabang. Malu merupakan salah satu cabang iman.” (H.R. Al-Bukhari).

Orang yang beriman dicirikan dengan rasa malu yang dimilikinya. Rasa malu adalah salah satu tolok ukur kualitas iman seseorang. Kita mungkin sering mengaku sebagai orang yang beriman, namun seringkali rasa malu tak terlihat pada diri kita. Jadi, inilah kenyataan yang ada pada diri kita, hampir dapat dipastikan pengakuan kita hanyalah sebuah kebohongan yang nyata dan agaknya keimanan kita pun patut dipertanyakan.

Sahabat Puan, sudahkah kita mengukur keimanan dari sifat malu kita? Jika belum, segeralah melakukannya! Jika selama ini kita tidak sadar bahwa standar ke-malu-an kita masih “tembus pandang”, segeralah berubah dan mulai menarik tirai untuk menutupinya sedikit demi sedikit atau sekaligus! Jadilah insan yang memiliki sifat malu! Sesungguhnya malu adalah sebagian dari iman. (se/rfh)


Biodata Penulis

Samia Elviria, M.A., sehari-hari beraktivitas sebagai dosen LB Prodi Ilmu Komunikasi di STISIP Nurdin Hamzah Jambi.

Facebook Comments