Monday, December 10, 2018
Home > Literasi > Cerita > Dua dalam Satu

Dua dalam Satu

Saat aku membuka mata perlahan-lahan, Aku melihat sebuah sinar terang. Aku mencoba membuka mata seluruhnya walaupun terasa agak sakit. Perlahan-lahan, aku mencoba bangun. Namun aku terkejut, aku tidak mengenal tempat ini. Kucoba mengingat kembali mengapa aku sampai di tempat ini. Tidak, aku tidak bisa mengingat apa pun. Di sebelahku, ada seorang wanita bercadar yang memakai gamis agak panjang berwarna pink dan rok panjang berwarna hitam. Cadarnya yang hitam  membuatku tak bisa mengenalinya. Lagipula, mengapa juga aku harus berada di tempat yang tak kukenali bersama wanita ini?

Pelan-pelan, kucoba membangunkan wanita itu. Ternyata ia menolak manja ketika kubangunkan. Aku mencobanya lagi, sayangnya wanita itu terlalu lelap dalam tidurnya.

“Daripada aku menunggu ia bangun. Sebaiknya aku mencari cara agar bisa keluar dari ini,” gumamku.

Lalu aku mencoba berdiri dan memeriksa ruangan yang hanya tersedia satu pintu itu. Tak ada jendela di sini. Kucoba melihat ke atas. Kutemukan sebuah saluran udara. Aku mencoba melihat ke sisi yang lain lagi. Ada sebuah penyedot debu, tempat sampah, dan berbagai alat untuk bersih-bersih lainnya. Tampaknya, aku sedang terjebak di sebuah gudang untuk menyimpan alat-alat kebersihan. Sudahlah aku tak perlu memikirkan itu. Aku pun berjalan ke arah pintu dan mencoba memutar ganggang pintu itu. Celaka terkunci!

Kucoba berulang-ulang memutar ganggang pintu yang  benar-benar keras dan tetap tak bisa dibuka. Kudobrak paksa pintu itu dengan membantingkan tubuhku. Satu, dua, tiga. Kucoba kembali mendobrak pintu itu dengan tubuhku, namun benda itu terlalu keras. Sudah kucoba berkali-kali mendobraknya, tapi tetap saja tidak bisa. Barangkai tubuhku yang kurus tidak mampu membuka pintu yang terlalu keras itu.  Aku sungguh kesal dibuatnya. Kutendang berkali-kali pintu itu. Ah percuma saja, semua hal itu tak mengubah apa pun. Pintu itu tetap tak akan terbuka.

Keputusasaan membuatku terduduk di belakang pintu itu. Ingin menangis aku menangis, tetapi air mata urung keluar sedikit pun. Tiba-tiba wanita itu terbangun dari tidurnya. Ia l bangkit dan mencoba duduk. Lalu mengucel matanya dan sepertinya terkejut melihat keberadaanku.

“Kamu siapa? Jangan-jangan mau memperkosaku ya? Ayo ngaku! Berani-beraninya kau melakukan hal itu kepadaku. Aku sudah milik orang lain!” teriak wanita bercadar itu.

“Kau sudah gila, Ya? Tidak mungkin aku memperkosamu. Lihat saja pakaianmu masih sangat utuh. Apalagi cadarmu masih terpasang rapi. Bagaimana mungkin aku bisa menikmati tubuh wanta tanpa melihat wajahnya?” bantahku pelan.

“Kau belum memperkosaku, tapi kau pasti baru saja berniat memperkosaku. Untung aku cepat bangun. Kalau tidak, sudah habis tubuhku diapa-apain olehmu. Dasar mata jalang!” katanya memburuku.

“Memangnya wajahku ini wajah penjahat kelamin apa?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya.

“Astaga, padahal aku orang baik-baik lho,” jawabku pasrah.

Ia menatap sekeliling sambil merasa heran. Tiba-tiba ia gusar sendiri.

“Ya Tuhan, ini di mana? Aduh, padahal hari ini keluargaku harus bertemu dengan keluarganya,” ucapnya sedih.

“Tolong lepaskan saya! Saya harus keluar dari sini!” teriaknya.

“Tolong, tolong saya!” teriaknya kembali seperti anak kecil kehilangan mainannya. Tidak lama kemudian, manik bening menetes di kiri kanan pipinya.

Aku tersentuh melihatnya, lalu kucoba menghapus air matanya. Ia malah memarahiku dan menjauhi dari tubuhku.

“Jangan coba-coba menyentuhku! Kita ini bukan muhrim,” bentaknya.

Aku hanya pasrah dengan penolakan itu. Hal ini kupikir wajar. Toh ia memakai gamis dan cadar, yang menandakan bahwa ia pemeluk agama yang taat. Ah, sayang sekali. Padahal, ketika menangis wajahnya terlihat manis.

Ia kembali bertanya apa aku hendak melakukan hal buruk terhadapnya. Kembali kujawab tidak. Ia kembali rewel seperti anak kecil. Aku terpaksa menunggunya tenang.

Setelah ia agak tenang, Kucoba menanyakan identitasnya.

“Namaku Halimah. Aku berasal jauh dari Kota Utara. Seingatku, terakhir aku datang ke Kota Selatan untuk menemui keluarga calon suamiku sebab kami sedang melakukan taaruf selama beberapa bulan ini. Rencananya hari ini kami mau melakukan lamaran,” ia terdiam seketika.

“Namun, itu semua tidak mungkin terjadi jika aku terkunci di sini,” rengeknya manja.

Kucoba menghibur sebisaku. Setelah ia terhibur dengan leluconku yang tidak lucu, ia menanyakan asalku. Kukatakan bahwa namaku adalah Bujang dan tinggal di Kota Selatan. Aku sedang melakukan riset ke suatu rumah tua untuk artikel yang akan kuikutkan ke suatu lomba. Ketika mencapai rumah itu, tiba-tiba saja aku berada di ruangan ini tanpa kuketahui sebelumnya.

“Apa tidak ada jalan keluar dari sini?” tanyanya.

Mendengar pertanyaannya, aku lalu menjawab bahwa tidak ada jalan keluar. Aku lalu menjelaskan berbagai upaya yang telah kulakukan saat ia tertidur. Mulai dari mencoba membuka ganggang pintu dan berusaha mendobraknya, namun usaha itu sia-sia. Ia sempat bertanya mengapa lelaki sepertiku tak mampu mendobrak pintu. Kukatakan saja terus terang bahwa aku tidak sekuat yang ia bayangkan. Ia hanya tertawa melihat kebodohanku.

“Apa tidak ada jalan lain selain lewat pintu itu?” tanyanya kembali.

“Tentu saja ada. Lewat saluran udara di atas. Sayangnya, saluran udara itu terlalu tinggi. Apa kau mau membantuku? Namun, aku perlu menggendongmu dan kaulah nanti yang akan membuka saluran udara itu,” ungkapku.

“Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak sudi disentuh oeh lelaki yang bukan muhrimku,” bantahnya.

“Ayolah untuk sekali ini saja,” pintaku.

Tidak mudah membujuk Halimah untuk membantuku. Ada berbagai dogma yang dijadikan alasan agar aku tidak menyentuhnya. Aku harus membujuknya terus menerus. Setelah melalui berbagai penolakan, akhirnya ia mau juga.

Sungguh tidak mudah menggendong wanita yang memakai pakaian tertutup serba panjang itu. Aku pun tak mungkin menggendongnya di punggung. Tentu juga tidak mungkin ia duduk di pundakku karena akan terhalang gamisnya yang panjang. Satu-satunya cara, ia akan  berdiri di pundakku. Untuk posisi ini, tentu tubuh kurusku yang kasihan. Namun daripada tidak bisa keluar, apa boleh buat?

Saat aku jongkok, Halimah mulai berdiri di atas pundakku. Pelan-pelan dengan berat,  aku mulai berdiri. Untungnya, tubuh Halimah begitu ringan. Meski tubuhnya sedikit goyang. akhirnya stabil jua. Perlahan-lahan, diperiksanya saluran udara di atas kami.

“Keras sekali,” keluhnya.

“Coba periksa baik-baik!” jelasku.

“Sudah kucoba, tetap saja keras. Tidak bisa dibuka sedikit pun,” keluhnya.

Aku menurunkan Halimah. Aku dan Halimah akhirnya pasrah terkurung dalam ruangan ini. Halimah tidak merengek lagi seperti tadi. Dari dua matanya yang hanya kulihat itu, tampak bahwa matanya sudah tidak memikirkan rencana lamaran yang ia katakan sebelumnya. Ia hanya terduduk lesu menerima nasib.

Halimah lalu mencari-cari sesuatu. Ternyata ia mencari tasnya. Ia pun membuka tasnya lalu meraba-raba seperti hendak mengambil sesuatu. Tidak lama kemudian, ia mengeluarkan tumpukan kertas gambar dan sebuah pensil. Setelah itu, ia mulai menggambar sesuatu.

“Kau mau menggambar apa?” tanyaku.

Kepo,” balasnya.

Sepertinya, ia tidak akan memberi tahu apa yang hendak ia gambar. Ia masih sibuk menggambarkan sesuatu dengan pensilnya itu. Tak lama kemudian, selesailah gambar sepasang pengantin. Lelaki dengan setelan jas dan peci seta jangutnya yang pendek. Ia memeluk seorang perempuan bergamis panjang dan bercadar.

“Ini aku dan calon suamiku kelak,” ucapnya sembari memamerkan gambarnya yang telah jadi itu kepadaku.

“Apa hanya lelaki berjenggot saja yang kau suka?” tanyaku.

“Tentu tidak. Aku memilih lelaki yang ketampanannya bak aktor dalam drama-drama korea. Namun, aku telah melupakan hal itu ketika terakhir aku benar-benar jatuh cinta. Meski ujungnya mengecewakan,” jelasnya.

“Kalau boleh tahu mengapa sampai begitu?” tanyaku pelan-pelan.

“Aku tak tahu alasannya meninggalkanku. Lelaki terakhir yang kucintai itu seorang penulis yang kukenal melalui dunia maya. Awalnya, kami hanya berkenalan biasa hingga akhirnya kami mengerjakan sebuah proyek komik. Komik itu tidak jadi kami garap, namun itu membuat kami merasa memilik hubungan, hingga akhirnya kami memutuskan untuk pacaran. Sudah kubiarkan ia tinggal dalam hatiku selama setahun lamanya. Namun apa daya, jarak yang begitu jauh membuatku penuh rasa curiga. Tidak jarang aku menuduhnya berselingkuh dengan wanita lain. Hingga akhirnya, kami pun jarang bertukar kabar. Lama kelamaan ia seperti melupakanku. Aku pernah mencoba menghubunginya, namun yang menjawabnya adalah wanita lain yang memarahiku. Sejak saat itu, aku menjadi sakit hati. Aku begitu sedih karena dilupakan. Sejak saat itu pula, aku menolak lelaki lain yang hendak mengisi hari-hariku. Aku menutup hatiku. Cukup lama aku berusaha melupakannya walau ujungnya gagal. Kucoba hijrah walau itu sulit, hingga akhirnya aku menjadi seperti ini,” jelasnya panjang lebar.

Ketika ia menjelaskan tentang lelaki pertama yang dicintainya, tiba-tiba aku mengingat seorang wanita yang begitu mencintaiku. Memang, ada begitu banyak wanita yang mencintaiku karena tersentuh dengan puisi-puisi romantis yang kuberikan. Namun, wanita itu begitu beda. Dia begitu membekas dalam ingatanku.

“Sepertinya kau mengingatkanku juga pada wanita yang dulu kukenal lewat dunia maya. Dulu aku menyukainya karena kemampuann menggambarnya begitu hebat. Ketika melihat kemampuannya, aku lalu mengingat impianku untuk menjadi komikus sehingga aku menjalin hubungan dengannya. Namun sayang, godaan dunia menulis memang beda. Aku dikelilingi banyak wanita yang menyukai puisi-puisiku sehingga aku sering lupa menghubunginya. Hingga akhirnya, aku menjalani hubungan dengan wanita lain yang lebih baik darinya. Untuk itu, aku terpaksa memutuskan hubunganku dengannya. Namun setelah beberapa bulan berlalu, aku sadar bahwa aku melakukan kesalahan. Aku ingin meminta ia kembali padaku. Namun, aku begitu gengsi mengatakannya. Aku hanya menyimpan kenangan itu sendirian,” jelasku.

“Apa ini kamu?’ tanya Halimah.

“Maafkan aku, Halimah,” jawabku pelan.

Mendengar hal itu Halimah tampak mundur. Ia sepertinya ingin mencoba menjauh dariku, “Maafkan aku!” mintaku pelan.

Halimah terlihat membuang nafas. Cadarnya bergoyang sedikit ke depan. Ia lalu menutup mata sembari mengelus dada.

“Sudahlah. Itu semua hanya masa laluku. Engkau kumaafkan,” jawabnya.

Aku merasa lega mendengar ucapan itu, namun masih ada sedikit penyesalan karena apa yang kulakukan dulu. Seandainya aku tidak menjauhi dirinya waktu itu. Mungkin saja, saat ini dia yang berdandan cantik jauh lebih cantik daripada dulu. Ya, penyesalan selalu datang terlambat.

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari luar pintu. Sontak Aku dan Halimah kaget. Tawa itu semakin lama semakin keras. Aku dan Halimah semakin ketakutan. Entah siapa yang tertawa bengis itu. Aku membayangkan apa yang akan dilakukan orang dibalik pintu itu kepadaku dan Halimah.Aku semakin takut jika saja mereka berniat jahat kepada kami. Pikiranku semakin kacau.

“Bagaimana Halimah? Apa kau puas sudah menemukan orang yang selalu kau rindukan dalam mimpimu? Kau sering bercerita padaku bahwa kau selalu bertemu dengan seorang pria penulis dalam mimpimu. Aku yakin kau sangat mencintai pria itu meskipun kau kelak menjadi milikku,” ucap suara misterius itu.

“Sekarang kau pasti sudah puas? Iya kan, Halimah?” bentak suara misterius itu.

“Sudahlah Rido. Sudah hentikan!” teriak Halimah.

Aku semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Pikiranku semakin kacau karena situasi ini. Tiba-tiba pintu itu dibuka. Seorang lelaki berbadan tegap dan berjenggot tebal melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Lelaki itu memegang sebuah pistol yang diarahkan ke tubuhku. Aku semakin panik. Adrenalin menguasai tubuhku.

Hal lain yang kuingat saat itu adalah janjiku. Janji yang pernah kuucapkan kepada Halimah dulu. Mungkin ia sudah lama melupakannya. Meskipun ia sudah melupakannya, saat ini aku harus menepati janjiku itu. Terserah ia mau menerima atau tidak janji itu.

Pistol itu belum sempat meletuskan pelurunya. Salah satu di antara kami ada yang terjatuh ke tanah. Ada sedikit noda darah jatuh ke lantai. Tenang itu hanya sedikit luka dari wajah kami yang lebam hasil kami adu kekuatan tinju. Kulihat Halimah menangis melihat pertengkaran dua manusia ini. Tingkah kami cukup bodoh seperti anak kecil yang berebut mainan.

Ah, seandainya aku tidak melupakan wanita yang kurindukan setiap harinya itu. Saat ini aku teringat kembali sebuah puisi tua dari Chairil Anwar judulnya “Cintaku Jauh Dipulau”. Ah, aku tidak mau menuruti nasihat penyair tua yang jomlo itu. Siapa juga yang mau berpisah dari kekasih hati?

 

Jambi, 28 November 2017

 


Biodata Penulis


Febrianiko Satria, hobi membaca dan menghayal. Bercita-cita menjadi musafir yang menulis tentang indahnya Indonesia. Aktif juga berorganisasi sebagai ketua Komunitas Berani Menulis. Blog: nikox7.blogspot.com. Pos-el: febrianiko.satria@gmail.com. Facebook: https://facebook.com/febrianiko.satria, dan Instagram: @niko_x7.

Facebook Comments