Wednesday, August 15, 2018
Home > Sosok > Perempuan Cantik Dibalik Pempek Ganteng

Perempuan Cantik Dibalik Pempek Ganteng

Bunda Dian, begitu panggilan akrab dan sayangnya. Perempuan kelahiran Blora empat puluh empat tahun lalu ini merupakan sosok yang berperan besar dalam perkembangan bisnis yang dikelola berdua dengan suaminya di bidang oleh-oleh dan souvenir  di kota Jambi, meskipun dia hanya berada di belakang layar dan jarang terpublikasi serta menjadi sorotan sebagaimana suaminya yang dikenal luas oleh masyarakat jika mendengar kata Jakoz (Jambi Kaoz).

Ya, sebelum mencoba peruntungan di bidang oleh-oleh kuliner kota Jambi yang kini dikenal dengan label Pempek Ganteng, bunda Dian bersama suaminya malang melintang menjalankan berbagai bisnis. Dari bisnis event organizer  yang mengelola seminar-seminar parenting, hingga  mencoba peruntungan menjual kaos pesanan partai politik dan pada akhirnya memutuskan untuk fokus menjual kaos oleh-oleh berciri khas Jambi.

Bisnis menjual kaos oleh-oleh berciri khas Jambi diputuskan untuk menjadi fokus yang digeluti bersama sang suami sejak tahun 2008. Ini dengan memperhatikan peluang belum adanya bisnis serupa di kota Jambi saat itu. Mereka berdua pun memulainya bukan dengan langsung menjadi besar. Awalnya hanya memproduksi kaos sebanyak tiga ratus helai dan dititipkan ke Dewan Kreatifitas Nasional dan Daerah  (Dekranasda) Provinsi Jambi maupun kota.

Keuletan bunda Dian dan suami dalam menjalani bisnis kaos oleh-oleh khas Jambi yang diberi label Jakoz itu, ditambah peluang bisnis yang belum banyak pesaing menyebabkan produksi kaos oleh-oleh mereka meningkat. Label Jakoz akhirnya mulai dikenal oleh masyarakat luas apalagi ketika mereka berdua memutuskan untuk membuka gerai khusus oleh-oleh khas Jambi pada tahun 2010 yang berlokasi di Sungai Kambang Kota Jambi.

Sejak itu label Jakoz berkembang pesat sebagai salah satu destinasi wisatawan dalam mengejar oleh-oleh khas kota Jambi. Bunda Dian dan suaminya pun berjibaku mengelola Jakoz dari segi manajemen hingga pemasaran. Karakteristik bunda Dian yang “orang belakang layar” lebih memposisikannya sebagai pengendali manajemen Jakoz, sementara sang suami bertugas keluar untuk membranding Jakoz.

Sebagai pengendali manajemen Jakoz, peranan bunda  Dian yang alumni Akuntansi sebuah perguruan tinggi swasta di Jogjakarta ini cukup signifikan. Selain permasalahan karyawan dan keuangan, juga masalah manajemen gerai Jakoz secara keseluruhan. Namun secara rendah hati, bunda Dian mengatakan bahwa perannya tak sepenuhnya sebagai pengendali. Sebab pada dasarnya segala keputusan manajemen juga dibicarakan berdua bersama sang suami.

Pada tahun 2016, usaha oleh-oleh bunda Dian merambah ke dunia kuliner, yaitu dengan membuka menu kuliner khas Jambi dengan label Pempek Ganteng. Ide membuka Pempek Ganteng datang dari sang suami dan bunda Dian sebagai pelaksana ide di lapangan. Peranan bunda Dian sebagai eksekutor ide di lapangan ini lah yang sangat vital. Sebab bunda Dian sama sekali tak memiliki kemampuan awal membuat pempek.

Maka, demi terlaksananya ide Pempek Ganteng tersebut, bunda Dian rela belajar membuat aneka olahan pempek sebagai makanan khas Jambi dan Palembang yang telah terkenal di nusantara itu. Bunda Dian awalnya belajar dari Youtube untuk membuat pempek sampai mencapai hasil yang sempurna. Masa belajar ini sekitar enam hingga tujuh bulan.  Tak puas hanya belajar dari Youtube, bunda Dian belajar secara khusus membuat Pempek dengan mendatangkan pelatih dari Palembang.

Selesai kursus Pempek dengan pelatih dari Palembang, bunda Dian membutuhkan waktu hingga  satu bulan untuk mencocokkan hasil belajarnya dengan penjualan Pempek.  Pada kurun waktu itu bunda Dian berusaha mencocokkan antara menemukan resep yang pas, rasa, warna dan cara agar diperoleh hasil pempek yang enak dan bernilai jual tinggi serta tidak mengecewakan pembeli.

Selain lenjer, Pempek telur dan adaan merupakan dua produksi pertama dari Pempek Ganteng yang berhasil bunda dian eksekusi untuk merambah bisnis kuliner. Penjualan Pempek Ganteng yang sempat membuka restoran tersendiri ditambah dengan kuliner minuman dan kemplang ini, tentunya tidak cukup jika hanya ditangani oleh bunda Dian saja untuk memproduksi Pempek. Maka, karyawan yang khusus menjaga restoran Pempek Ganteng juga diajarkan pelan-pelan untuk membuat pempek, meskipun hanya sebatas pempek lenjer.

Kini, label Pempek Ganteng juga mulai dikenal luas dibawah naungan manajemen Jakoz. Sayangnya dikarenakan permasalahan lokasi, restoran yang menjual aneka olahan Pempek Ganteng ditutup, namun Pempek Ganteng tetap bisa dijual di gerai Jakoz baik secara online maupun offline.  Saat ini, wisatawan domestik terutama, jika datang ke Jaloz tak lupa selalu memesan Pempek Ganteng.

Menariknya kini dua bisnis yang tengah melaju ada digenggaman bunda Dian dan suaminya.  Untuk Pempek Ganteng, bunda Dian mengakui bahwa fokusnya pada produksi dan manajemen, sedangkan suami tetap pada branding dan system.  Selama menangani dua tempat bisnis ini, bunda Dian sangat menikmati proses yang berjalan. Dari proses tersebut ia dapatkan makna perjuangan membangun bisnis dan kerjasama bersama suaminya.

Tantangan yang dihadapi oleh bunda Dian dan suami pun juga semakin besar, terutama dari segi omseti. Selama ini bunda Dian mengakui bahwa karyawannya hanya fokus untuk menangani dua label bisnisnya itu di dalam. Namun untuk promosi keluar belum ada karyawan secara khusus yang ke lapangan, melainkan hanya mengandalkan suaminya yang terkenal sebagai penulis dan motivator bisnis.

Untuk mengatasi masalah promosi guna menaikkan omset tersebut, strategi yang bunda Dian lakukan adalah berupaya mengajari karyawan untuk promosi keluar. Baik melalui offline  maupun online. Contoh terkecilnya melalui media sosial.  Dari hal ini, bunda Dian memang memiliki prinsip untuk tidak pelit membagi ilmu dengan karyawannya. Ia tidak takut karyawannya akan pergi meninggalkannya dan membuka usaha serupa, sebab ia percaya rejeki telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa dan setiap orang memiliki ke khasan masing-masing.

Justru menurut prinsipnya, jika sebuah bisnis ingin besar, maka harus menularkan ilmu kepada yang terkait dengan bisnisnya, karyawan terutama. Ilmu diberikan selama yang menerimanya dipandang juga memberikan kontribusi bagi kemajuan bisnis, mengapa tidak. Satu kata yang menjadi kunci dari bunda Dian, bahwa usaha harus outo pilot. Maka dari itu, usaha tidak bisa pelit berbagi ilmu dan harus bisa merangkul orang untuk bisa menjalankan ide dan mengeksekusinya bersama. Tidak ada kata bekerja sendirian bagi bunda Dian, harus bekerja dan berjuang bersama.

Bagi bunda Dian dan suami, menjalankan bisnis juga harus seiring dengan spiritualitas keimanan. Maka, tak heran jika di manajemen yang ditanganinya selama menjalankan Jakoz maupun Pempek Ganteng, secara rutin bersama karyawannya bunda Dian dan suami kerap mengadakan mengaji Al-qur’an bersama, mewajibkan sholat Dhuha dan menjaga utuhnya sholat lima waktu. Ini dilakukan agar bisnis bertambah berkah dan tidak semata hanya mencari uang atau keuntungan, tetapi juga mendekatkan diri serta bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Berbicara dengan sosok bunda Dian memang tidak akan terasa hingga waktu habis, sebab banyak ilmu bermanfaat yang keluar dari bunda Dian. Meskipun secara sekilas sosoknya tampak pendiam, namun ternyata perempuan yang sebelum membuka bisnis berdua dengan suaminya ini juga pernah mencecap pengalaman bekerja sebagai Kepala Cabang di lembaga bimbingan belajar terkemuka dan bertugas di beberapa daerah hingga di Papua.

Melaju pesatnya kedua bisnis yang digelutinya bersama sang suami juga tak membuat sosoknya tinggi hati untuk berlomba saling menonjolkan diri dengan suami. Bunda Dian justru memilih menjadi sosok yang rendah hati dan bersahaja. Baginya dirinya dan suaminya adalah bagian yang tak terpisahkan untuk berjuang bersama di kedua belah pihak dalam menapaki rumah tangga maupun membesarkan bisnis.

Kendatipun demikian, sosoknya bukan perempuan lemah dan suka bergantung, justru sebaliknya kuat dan mandiri serta cerdas tanpa harus jumawa dan memamerkan keberhasilan. Untuk itu bunda Dian berpesan kepada sahabat Puan sekalian, bahwa perempuan harus mandiri apapun  yang terjadi. Untuk itu perempuan harus mau belajar segala hal yang dapat dijadikan sebagai keahlian mengembangkan ekonomi.

Ini sebagai antisipasi jika ada kemungkinan suami tidak bekerja karena alasan kesehatan, atau suami meninggal dunia. Maka perempuan harus punya keahlian untuk menopang ekonomi keluarga, sebab tidak ada yang dapat menjamin masa depan. Baginya Setiap perempuan memiliki potensi untuk berkembang tergantung secara mental, apakah individu perempuan tersebut mau mengekplorasi kemampuannya untuk menjadi perempuan yang mandiri.  Jika orang lain mampu menjadi perempuan mandiri, mengapa kita tidak.


Nama : Dian Prihati

Tempat tanggal Lahir : Blora, 5 Oktober 1974

Suami : Berlian Sentosa

Anak : Dua anak Perempuan

Pendidikan : Akuntansi UPN Yogyakarta

Pengalaman Kerja : Kepala Cabang Primagama di Solo (2001-2007), Kepala Cabang Primagama Papua (2000)

Facebook Comments