Saturday, June 23, 2018
Home > Kupas > Pesan Harmoni dan Kebhinekaan Waisak 2562/2018

Pesan Harmoni dan Kebhinekaan Waisak 2562/2018

Nilai toleransi dan keharmonisan di bumi nusantara telah berkembang dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam masyarakat Indonesia sejak jaman kejayaan sriwijaya dan Majapahit. Nilai nilai toleransi dan  keharmonisan sangat penting untuk memahami kebhinekaan demi menjaga keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bhineka Tunggal Ika berbeda-beda tetapi tetap satu, sebuah kalimat dari seorang guru dharma di jaman Majapahit yaitu Empu Tantular di abad ke 14. Semboyan ini masih terus menjadi kekuatan pemersatu dan harmoni dalam kebhinekaan untuk bangsa dan NKRI. Sebagaimana kehadiran sang Budha di dunia ini adalah untuk kebaikan, kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia, demikian halnya kehadiran setiap individu yang mengenal dharma hendaknya menjadi cahaya terang menciptakan kebaikan untuk menjaga kebhinekaan yang ada demi persatuan dan kesatuan.

 Sikap awal dalam menjaga keutuhan bangsa ini adalah memahami kemajemukan  sebagai sebuah realitas kekayaan bangsa yang dipersatukan oleh nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Harmoni dalam kebhinekaan untuk bangsa , ditetapkan Sangga Agung Indonesia sebagai tema Waisak tahun 2562 Budhis era tahun 2018.

Bagi keluarga  Budhayana Indonsesia, yaitu mendiang bante Asin Jinarapita Mahatera, beliau mengedepankan pandangan non sektarian untuk dapat melihat secara objektif kebhinekaan yang ada di Indonesia, suku, agama, ras dan golongan, mengajak untuk terus menciptakan kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan senantiasa memiliki ucapan , pikiran dan perbuatan yang berdasarkan cinta kasih dan kasih sayang.

Semoga momentun waisak 2562 Budhis era tahun 2018 terus tetap menguatkan keharmonisan dalam kebhinekaan seluruh NKRI. Selamat merayakan Waisak. Semoga kekuatan sang Budha, dhamma dan sangga bangsa dan NKRI senantiasa selalu dalam keadaan aman, damai tentram dan sejahtera. Semoga berkah usia panjang, kesehatan, kebahagiaan ada pada kita sama. Namo sanghyang adi budaya, namo budaya.

Begitulah pesan yang disampaikan oleh bante Thanavaro perwakilan Sangga Agung Indonesia untuk Jambi ketika perayaan Waisak 2562/2018 se Sumatera yang di pusatkan di candi Muaro Jambi, kabupaten Muaro Jambi, provinsi Jambi, 29 Mei 2018. Pada saat itu hadir ribuan umat Budha berbagai aliran dari seluruh penjuru Sumatera dan Jambi khususnya, seperti aliran budha Mahayana, Maitreya, Tantrayana dan lain-lain.

Perwakilan pimpinan Budha dari Tibet, Thailand, Vietnam dan negara-negara Asia sekitar juga turut hadir pada saat itu. Mereka semua mendapat kehormatan untuk memimpin doa, menyalan api suci dan memberikan pemberkatan dengan air suci, serta menerbangkan lampion harapan diakhir acara. Tak hanya itu, bersama umat Budha lainnya mereka juga melakukan kegiatan Pradaksina yang mengelilingi candi Gumpung dengan membawa lilin.

Dari segi kepanitiaan, perayaan Waisak se Sumatera yang telah dua tahun ini di pusatkan di candi Muaro Jambi, melibatkan tidak hanya umat Budha tetapi juga warga lokal dan masyarakat umum lainnya beserta jajaran pemerintahan daerah Provinsi Jambi dalam hal ini di bawah naungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jambi. Mereka yang terlibat ini berasal dari beragam agama, suku dan golongan.

Candi Muaro Jambi sendiri dipilih sebagai lokasi pusat kegiatan Waisak selama dua tahun itu karena pertimbangan aspek sejarah dan budaya. Kompleks percandian yang membentang hingga ratusan hektar ini dan ditasbihkan sebagai yang terluas di Asia Tenggara,  merupakan peninggalan dari kerajaan Sriwijaya pada ribuan tahun yang lalu. Pada masanya candi Muaro Jambi merupakan pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan agama Budha di Asia.

Hal tersebut diatas dapat dibuktikan dari banyaknya penelitian, temuan kerja arkeologi yang memberikan fakta keterkaitan candi Muaro Jambi dengan beberapa situs dunia yang serupa seperti di Nalanda India misalnya. Juga terkait dengan catatan perjalanan Itsing yang berasal dari cina yang menyinggung tentang keberadaan candi Muaro Jambi pada masa kerajaan Sriwijaya.

Sejak ditemukannya pada tahun 1824 oleh Crooke yang berkebangsaan Inggris, candi Muaro Jambi terus dilakukan upaya pembenahan, ekskavasi hingga pelestarian. Bahkan kabar terkahir mencoba diajukan untuk dicatat sebagai salah satu warisan duni ke badan PBB UNESCO (United Nations Education Scient and Culture Organization). Saat ini pemerintah dan masyarakat setempat sedang giat memajukan candi Muaro Jambi sebagai ikon pariwisata provinsi Jambi.

Tidak hanya ketika Waisak sebenarnya, pada hari-hari biasa beberapa umat Budha juga kerap melakukan peribadatan di candi Muaro Jambi. Mereka yang melakukan peribadatan ini tidak hanya berasal dari Jambi dan sekitarnya, namun juga dari negara-negara Asia yang tertarik akan keberadaan candi Muaro Jambi.

Momentum perayaan Waisak sejak dua tahun itu selain dijadikan agenda perayaan keagamaan, kini juga dikemas sebagai agenda pariwisata yang menarik wisatawan untuk datang dan berkunjung ke candi. Dan ini telah terbukti ampuh, sebab pada tahun ke dua wisatawan lokal terutama yang terdiri dari berbagai agama, ras dan suku datang saat perayaan Waisak.

Mereka para pengunjung tersebut secara bersama-sama dengan umat Budha menanti detik-detik Waisak dan momen pelepasan seribu lampion. Bahkan di akhir acara, mereka juga ikut menerbangkan lampion dan berfoto bersama dengan para pemuka maupun umat Budha yang hadir tanpa memperdulikan simbol pakaian yang mereka pakai, muslim maupun agama lainnya dan Budha bersama saling menjaga di perayaan Waisak.

Berbeda dengan tahun kemarin dimana acara perayaan Waisak hanya memusatkan pada prosesi ritual keagamaan Budha, tahun ini pengemasannya juga diselingi dengan seni tradisi masyarakat setempat berupa tari-tarian dan musik. Bahkan sebelum menjelang doa dipanjatkan untuk menanti detik-detik perayaan Waisak, sebuah drama teater yang menggambarkan perjalan Atisa guru dhamma Budha pada masa ribuan tahun lalu ditampilkan lengkap sebagai bentuk pengetahuan arti pentingnya situs candi Muaro Jambi beserta keterkaitannya dengan perkembangan agama Budha di Asia.

Namun, oleh karena bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 2018 ini, acara perayaan Waisak 2018 hanya digelar dari jam satu siang hingga jam sepuluh malam. Adapun rangkaian acaranya hingga malam yaitu diawali dengan prosesi ritual mandi rupang dang prosesi serupa dari beberapa aliran agama Budha,  menyanyikan lagu Indonesia Raya, tarian selamat datang, doa-doa pembuka dari perwakilan lintas agama baik dari Islam dan Budha, kata sambutan panitia dan pejabat setempat, penyampaian pesan Waisak, tarian Cinde, sendratari The Journey Of Atissa, pradaksina, amisapuja, tuntunan sila, meditasi, pemberkatan air suci, hingga pelesapan seribu lampion.

Tahun ini Waisak diselenggarakan dengan mengusung tema Harmoni dan Kebhinekaan, sedangkan tahun kemarin bertema toleransi. Tema-tema ini selaras dengan kondisi bangsa yang menuntut peguatan harmoni dan kebhinekaan sebagai nilai yang telah lama dimiliki bangsa Indonesia. Sebagaimana pesan Waisak yang disampaikan bahwa hendaknya setiap indivu mencari penerang dalam menjaga sikap kerukunan, keharmonisan agar sikap keberagaman yang menjadi ciri NKRI tetap utuh.

Facebook Comments