Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Pendidikan > Potret Kritis Keberagamaan di Jambi

Potret Kritis Keberagamaan di Jambi

Beberapa tahun belakangan ini, Jambi ternyata menjadi zona merah yang patut diperhatikan bagi tumbuh kembangnya paham dan praktik gerakan radikalisme, terorisme serta intoleransi. Ini terekam atas beberapa peristiwa seperti kasus penistaan lafadz Allah di sebuah hotel, penyerangan kantor polisi di Muaro Sebo, kabupaten Muaro Jambi, kasus pelecehan agama Islam oleh seorang mahasiswa, hingga kasus personel polisi yang terpapar paham radikal.

Untuk itulah, Seloko Institute menggelar dialog yang diberi tajuk “Potret Kritis Keberagamaan di Jambi” pada 24 Juni 2018 kemarin, bertempat di cafe hotel Nusa Wijaya, kota Jambi. Kegiatan ini didukung oleh Forum Film Jambi, SKY, LPPM STISIP Nurdin Hamzah, Kajanglako.com, Puan.co, GK, dan beberapa sponsorship lainnya. Hadir sebagai narasumber yaitu tokoh lintas agama seperti Freddy Torang S (Katolik), Fajri Almughni (Islam), Rudy Zhang (Budha).

Dialog tersebut diawali dengan membahas penelitian dari Fajri Almughni tentang toleransi yang ada di kampung Penyengat Rendah, kota Jambi. Penelitian tersebut memaparkan bahwa masyarakat Penyengat Rendah yang pada umumnya merupakan orang Melayu beragama Islam, dalam pergaulan sehari-hari menghargai dan toleran terhadap tetangga mereka yang berbeda agama, namun toleransi tersebut tidak untuk urusan mendirikan rumah ibadah agama lain.

Masyarakat Penyengat Rendah cenderung melakukan penolakan kepada agama lain untuk mendirikan rumah ibadah. Penolakan juga dilakukan ketika agama lain melakukan sumbangan dan bantuan. Fajri mengemukakan bahwa alasan hal tersebut terjadi karena ada persepsi mengenai upaya untuk mendoktrin masyarakat agar ikut atau berpindah agama. Alasan lainnya yaitu adanya persepsi mengenai ketakutan akan terganggunya akidah mayoritas umat Islam yang ada.

Sementara itu Freddy mengemukakan bahwa paska reformasi justru sikap toleran dalam kerangka keberagamaan mengalami kemunduran.  Sikap-sikap intoleran justru menguat pada paska reformasi ketika demokrasi justru menjadi acuan. Gambaran akan sikap ini dapat dilihat pada banyak kasus diskriminasi menggunakan politik identitas, apakah itu karena suku minoritas, agama minoritas. Disamping itu penolakan terhadap pendirian rumah ibadah kian marak.

Freddy berpendapat bahwa hal ini dikarenakan kran arus ideologi internasional yang dibuka seluas-luasnya paska reformasi. Sehingga sikap-sikap intoleran yang kian berkembang dalam kerangka keberagamaan itu mengambil tempat pada bentuk radikalisme dan terorisme. Dalam hal ini Freddy menyoroti pemerintah yang justru tunduk pada tekanan kelompok-kelompok pelaku intoleransi.

Sikap pemerintah yang hanya mengambil jalan afirmasi terhadap kasus-kasus intoleransi dalam keberagamaan ini sangat disayangkan oleh Freddy. Sikap ini juga justru didukung oleh media yang ikut menumbuhkan sikap intoleransi dengan hanya mengabarkan informasi tragedi pembakaran rumah ibadah. Negara dan media saat ini menurutnya sangat tunduk pada hegemoni kelompok-kelompok kepentingan yang menggunakan politik identitas sebagai penekan pada konteks kehidupan sosial.

Potret Kritis Keberagamaan di Jambi

Rudy Zhang sebagai perwakilan umat Budha yang hadir mengemukakan bahwa pada hakikatnya Tuhan menciptakan setiap manusia atau individu itu memiliki perbedaan. Saudara kembar pun satu sama lain memiliki perbedaan. Maka dari itu, apakah setiap perbedaan ini akan kita kelola untuk persatuan atau justru perpecahan. Dalam artian ini, Tuhan menciptakan perbedaan bagi kehidupan manusia, perbedaan adalah kehendak atas kuasanya.

Bagaimana kita harus menerima perbedaan yang ada? Bagaimana kita harus menyikapinya ? sebab perbedaan itu memang ada.  Dari perbedaan ini Tuhan menginginkan kita semua untuk belajar dari perbedaan tersebut untuk mengembangkan toleransi, kasih sayang dan welas asih. Dalam konteks ini, Rudy Zhang juga mengemukakan bahwa sebaiknya untuk mengembangkan hal tersebut agar lebih sering dilakukan dialog antar umat beragama, kelompok dan golongan.

Peserta dialog dalam acara ini sangat mengapresiasi dialog keberagaman maupun keberagamaan. Mereka mengatakan agar dialog ini tidak berhenti pada acara ini saja, tetapi juga harus dilakukan lebih sering dan intens untuk mengembangkan sikap toleransi antar umat beragama, kelompok dan golongan.

Facebook Comments