Wednesday, August 15, 2018
Home > Literasi > Cerita > Cakra Menggapai Angin

Cakra Menggapai Angin

“Selamat datang, Bintang!” Malam ini kembali kau penuhi langit-langitku dengan kerlap-kerlip nan rupawan di atas sana. Tetap dengan senyum, aku mengingat siluet bayangan manis perawanku yang masih bertengger angkuh memenuhi ruang 3×4 ini.

**
Cakra. Ya, demikian orang-orang meneriakkan sebaris nama itu saat memanggilku. Dari dulu hingga saat ini, masih saja “Cakra” yang kudengar tatkala mereka menyebutku.

Sama seperti makhluk Tuhan berjenis kelamin laki-laki lainnya, dengan usiaku yang hampir menginjak kepala tiga di bulan ini. Sepertinya, aku mulai membutuhkan seorang perempuan untuk menemani malam-malamku. Lebih tepatnya memenuhi segala kebutuhanku sebagai lelaki dewasa.

Apa yang menjadi penghalang bagiku? Bukankah yang dibutuhkan seorang perempuan hanya kenyamanan dan keamanan? Saat seorang lelaki telah mampu memberikan itu semua, kupikir tidak akan ada keraguan.

Aku memiliki pekerjan! Walaupun tidak sebagai direktur atau manajer, dengan posisi staf eksekutif di sebuah BUMN, aku cukup mampu menghidupi seorang perempuan. Ditambah dua atau tiga orang anak pun, aku yakin gaji yang kumiliki saat ini masih bisa memenuhi semua kebutuhan mereka.

Apalagi yang harus kurisaukan? Soal wajah? Meski tidak bisa dikategorikan ganteng, aku cukup bersyukur dilahirkan dengan segala kelengkapan dan sebuah tatapan yang membuat detak jantung perempuan mana pun bergetar.

Menimbang, tidak ada permasalahan yang dapat menghalangiku. Aku mulai membulatkan tekad untuk menikah tahun ini.

**

“Ra, kemarin bapak dan ibu sudah menemui Haji Sulaiman,” ucap ibu saat kami bertiga sedang menikmati sarapan,

Kata-kata ibu membuyarkan lamunanku. Sebenarnya, aku tidak terlalu setuju dengan ide mereka yang berniat mencarikan pasangan hidup untukku. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot,  akhirnya  aku harus menyerah. Jujur, aku sendiri tak begitu banyak waktu untuk berburu wanita. Pekerjaan yang padat dan sifat pemaluku menjadi kendala terbesar dalam persoalan menjerat hati.

“Terus, bagaimana, Bu? Tanyaku seadanya.

“Beliau setuju. Aminah, anak gadisnya, juga tampaknya manut-manut saja tanpa penolakan. Tanggal baik juga telah kami pilih,” lanjut ibu seraya mengerlingkan matanya ke arah bapak sebagai tanda meminta persetujuan.

Belum sempat aku memberikan tanggapan, suara berat bapak menimpali. “Iya, kami telah menetapkan pernikahan untuk dilangsungkan pada akhir bulan depan”, tegasnya.

Aku hanya terdiam, terpaku dengan sepotong roti yang belum sempat kulahap. Keputusan tersebut terdengar seperti hukuman gantung untukku. Tiba-tiba aku menjadi ragu. Segala ketakutan menjalar perlahan di sela-sela hatiku.

“Aminah, itu gadis yang baik. Dia keibuan, penurut, pintar memasak, lemah lembut, sopan,dan salehah. Bobot, bibit, dan bebetnya jelas, bla..bla..bla..bla……….,” rentetan pujian ibu terdengar samar, telingaku seolah menolak untuk mendengarkannya.

Aku sendiri, belum pernah bertemu langsung dengan Aminah, selain hanya mengetahui nama dan melihat wajahnya melalui selembar foto yang ibu berikan. Aku benar-benar tidak tahu siapa perempuan yang kelak akan menjadi teman hidupku itu.

Tidak ada protes yang keluar dari bibirku. Sebab demikian, aku selalu menuruti segala keinginan orang tuaku. Rasanya mustahil untuk mengatakan tidak karena semuanya telah mereka tetapkan.

Menjelang hari pernikahan, aku dan Aminah menjadi sering bertemu. Kami berdua mengurus segala persiapan terkait mimpi-mimpi orang tua kami. Benar, seperti yang dikatakan ibuku. Aminah gadis yang baik. Rupanya pun menarik. Wajahnya yang teduh menyembul dari jilbab panjangnya. Sungguh mengesankan setiap kali mata elangku menatapnya.

Jatuh cintakah aku padanya? Ini pertanyaan yang cukup sulit untuk kuuraikan. Pernikahan yang kulakukan bukanlah untuk membahas lima huruf menjelimet itu. Aku menikahinya dengan harapan perasaan itu perlahan tumbuh seiring dengan apa yang kami lakukan bersama. Hingga akad suci itu berlangsung. Aku masih belum mau memikirkan soal cinta ataupun perasaan lainnya.

**

Aku kembali berteriak, dengan bayangan darah mengenang dan tubuh terbujur kaku. Bintang, di mana kau kini? Tolong terangi tatapanku yang tiba-tiba menggelap! Tak kulihat apa pun, kecuali teriakan dan jerit tangis di mana-mana. Aku kembali berteriak. Sungguh, aku benar-benar ketakutan. Bintang, tolong aku! Tiba- tiba pandanganku kembali gelap dan aku menggelepar tak berdaya.

**

Tak ada masalah berarti dalam pernikahan kami. Selama setahun bersama, Aminah bagiku adalah sosok perempuan sempurna. Dia dengan telaten mengurusiku dan berbakti sepenuh hati sebagai seorang istri. Aku pun berusaha menjadi suami terbaik buatnya.

Walaupun tidak begitu banyak komunikasi indah yang terjalin, tetapi aku tahu Aminah memahami kalau sampai saat ini banyak perbedaan mendasar di antara kami. Aminah dengan pola pikirnya yang kaku terkadang membuatku malu untuk mengenalkannya kepada teman- temanku.

Sungguh, aku juga tidak pernah memiliki niat untuk menganggapnya kampungan ataupun ungkapan sejenisnya. Namun, tatapan mengejek dari teman-temanku tidak mungkin dapat kuhindari. Aminah, sepertinya dia juga sudah mengetahui kenapa aku tidak pernah mengajaknya pada pertemuan resmi di kantor atau hanya sekadar berkumpul dengan teman- teman sekantorku. Aku juga dapat melihat kesedihan mendalam yang ia simpan, meski dengan samar dia selalu berusaha menutupinya.

“Mas malu menikah dengan Minah?” ucap istriku tiba-tiba, persis sesaat ketika aku hendak melepas penat malam ini.

Aku tersentak mendengar ucapannya. Rasa kantuk yang sudah sejak tadi bergantung di pelupuk mataku tiba-tiba hilang.

“Emm, kenapa bertanya seperti itu?” jawabku hati-hati.

“Minah, cuma ndak mau saja kalau mas jadi malu di depan temen-temennya Mas,” jawab Minah.

“Ah, itu cuma perasaanmu saja.Ayo kita istirahat saja dulu! Sudah larut,” potongku cepat sebelum sederet kata-kata miris lain siap meluncur kembali dari bibirnya.

Persoalan ini bukan berarti selesai. Kondisinya malah makin buruk, Aminah benar- benar merasa tertekan dan minder. Sementara aku sendiri dengan tidak segan-segan lagi menunjukkan sikap tidak bisa menerima dia dengan pola pikirnya yang terlihat kolot.

Menghindari pertikaian dalam kebisuan, aku malah menyibukkan diri dengan berbagai tugas- tugas di kantor. Bahkan, tawaran dinas luar menjadi kesempatan yang amat menyenangkan sehingga tak perlu lagi aku melihat tatapan sedih Aminah yang menantiku pulang ke rumah menjelang dini hari.

Aku dan Aminah semakin larut dalam kesibukan masing- masing. Di saat-saat seperti ini, aku mengutuk diriku sendiri untuk tindakan bodoh menerima pernikahan ini. Semuanya terasa dingin, Aminah semakin terlihat memuakkan meski sikap bakti tulus sebagai seorang istri tak pernah surut. Akan tetapi, aku masih terlihat seperti pecundang dengan masih terus berusaha bermanis-manis. Sementara kelima huruf yang pernah kuanggap menjelimet itu terus menghiasi pikiranku. Keraguan, kegalauan, dan penyesalan semakin membuatku tak sanggup lagi terus membohongi Aminah, dan terlebih pada diriku sendiri. Sungguh, aku semakin tak sangup.
Sampai pada suatu hari, aku berjumpa dengan seorang perempuan yang akhirnya kupanggil dengan sebutan Dinda itu. Perempuan muda nan cantik, cerdas, dan modern. Segala kelebihan yang dimilikinya membuatku semakin menyesal telah memilih Aminah menjadi istriku. Bersamanya telah membuatku merasakan sebuah kata yang teramat manis yang akhirnya membawaku pada keraguan yang menggunung. Cinta, sejak awal menikahi Aminah aku memang meniadakan itu dalam pikiranku. Situasinya menjadi berbanding terbalik, setelah kujalani pernikahan itu, tiba-tiba lima huruf itu kembali mengacaukan konstruksi pikiranku.

Hubungan cinta dengan perempuan menakjubkan itu semakin dekat. Sementara Aminah kurasakan semakin menepi dalam keterpurukannya sendiri. Dengan ketegarannya, sama saat pertama kali aku menatapnya dengan senyum dan tatapan teduh. Sedikitpun tak ada yang berubah dari istriku itu. Di ujung hatinya telah menganga sebuah luka yang teramat dalam, tetapi lautan pengabdiannya sebagai istri tak sedikit pun pernah menyusut.

Hitungan bulan terus berjalan hingga di suatu siang kudapati rumahku seketika menjadi senyap. Kupanggil Aminah berulang-ulang, yang ku dengar hanya suaraku sendiri yang memantul pada setiap sudut ruangan. Di atas meja ruang tamu kutemukan sebuah surat tergeletak, kuraih dan kubaca goresan tangan yang sangat kukenal itu.

**


Untuk kau yang selalu mengisi relung hatiku.

Sejak pertama kali kau meminangku dan memilihku sebagai seorang istri, kau tahu, Mas, ribuan mimpi indah berkecamuk dalam anganku. Merangkai dan mereka-reka hal terindah yang akan kudapati bersamamu. Semua harapan kusandarkan padamu. Semua pengabdian sebagai istri kuberikan untuk sebuah ikatan suci itu. Mimpi ini, ternyata tak seperti yang kubayangkan, aku harus tertatih mengiringi langkahmu yang kurasakan kian menjauh.

Untuk setiap senyum, tawa, tangis, dan kepedihan ini, aku selalu terus berupaya untuk bertahan. Kau tahu, Mas, aku sempat terjerembab, bangun, tersungkur, dan kemudian berusaha untuk bangun lagi. Semua kulakukan sebatas yang bisa kulakukan. Setiap pagi kurasakan dinginnya embun di ujung kulitku, setiap tetes embun itu akhirnya mencair saat mentari datang perlahan. Mimpiku juga seperti embun, Mas.

Setiap kali kubangun harapan itu, tetapi takkan bertahan lama dengan semua sikap yang kau lakukan untukku. Aku memilih menyerah, Mas. Aku memilih mengakhirinya dengan tidur karena kutahu takkan lagi melihat mentari. Embun akan selalu abadi di hatiku untuk setiap cinta yang kuberikan untukmu. Aku minta maaf, Mas. Selama ini aku tidak pernah bisa menjadi perempuan yang bisa kaubanggakan. Aku tak bisa membuatmu tersenyum kagum untuk setiap hal yang seharusnya bisa kulakukan untukmu. Sungguh, aku minta maaf atas seluruh ketertekanan dan rasa tidak nyaman yang kuhadiahkan untukmu.

Embun abadimu

Aminah

**
Aku terpaku beberapa saat, lama kuartikan sebuah surat pendek dari Minah. Perasaan aneh menelusup dan membuatku tersentak tatkala aku menyadari betapa besar kepedihan yang telah kutorehkan pada Aminah, perempuan yang telah memberikan seluruh hatinya untukku. Lalu aku berlari menuju kamar dan yang kudapati hanya sepi.

**

Dua orang perempuan berpakaian putih menghampiri seorang lelaki yang terbaring kaku. Salah satu dari mereka menyuntikkan sesuatu di bagian tubuhnya. Lelaki itu seperti kesakitan saat cairan dalam suntikan itu menelusuri sendi-sendi dalam tubuhnya.

“Sudah setahun Pak Cakra di sini, dan kau lihat tidak ada perkembangan sedikit pun,” ucap seorang perawat kepada temannya.

“Iya, tekanan mental dan rasa bersalah kehilangan istrinya menyebabkan depresi hebat yang sukar disembuhkan,” jawab perawat yang lain.

Nggak nyangka ya, laki-laki tampan yang memiliki segalanya seperti dia harus menjalani hari-harinya di rumah sakit Jiwa,” perawat itu mengerlingkan matanya ke arah Cakra. Kemudian mereka berlalu meninggalkan Cakra dalam kesendirian.

Facebook Comments