Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Mata Han Kang: Kegelapan Masa Lalu Korea

Mata Han Kang: Kegelapan Masa Lalu Korea

Tidak ada yang luput dari masa lalu. Entah itu menyenangkan seperti warna-warni bunga yang bermekaran atau justru hitam pekat seperti sisa batang pohon yang tebakar. Sayangnya, hanya sedikit yang peduli dan benar-benar mencari dengan sengaja. Apalagi jika masa lalu itu gelap, menyeramkan, dan menyakitkan. Mengingatnya saja sudah mengerikan. Melalui Mata Malam (Baca Publishing House, 2017), Han Kang menyajikan kekelaman yang menyelimuti Korea pada masa lalu, yakni Gwangju Uprising (Pemberontakan Gwangju). Tragedi “5-18” yang mengisyaratkan tanggal 18 Mei 1980. Siapa sangka tragedi ini seperti ironi jika diketahui para penggemar K-pop dan K-drama. Di balik kecantikan dan ketampanan artis-artis Korea yang menjadi bahan puja-puja di zaman ini, ternyata negara mereka memiliki masa lalu yang  bisa dan pantas dikatakan buruk.

Mata Malam sangat terasa didorong oleh karakter-karakter yang kuat sama seperti Kang  mendorong karakter-karakternya pada novel sebelumnya – Vegetarian –  yang pantas meraih Man Booker International Prize. Sang penulis yang sedang disorot kesusastraan internasional ini memang piawai membuat tulisan yang apik. Novel ini memiliki enam bagian dengan sudut pandang tokoh yang berbeda-beda. Kang menggunakan sudut pandang orang pertama, kedua, dan ketiga, yang membuat keenam bagian itu lebih terlihat menjadi satu kesatuan utuh. Menjadi sebuah pemandangan yang memilukan. Menjadi sebuah lukisan dan tulisan muram, namun menyimpan kekuatan yang luar biasa. Cara Kang menguraikan setiap potongan-potongan kejadian membuat hati nurani tergugah. Rasa benci, sesal, kesal, pilu, haru, bertumpuk menjadi lapisan-lapisan yang merangkai imajinasi pembaca. Barangkali setiap negara memiliki kesuraman masa lalu yang hampir sama. Tragedi ’65 dan ‘98 di Indonesia misalnya, pembantaian kamp Shabra dan Shatilla, tragedi Bosnia, peristiwa Holocaust, dan peristiwa-peristiwa di belahan dunia lain. Tragedi dengan alasan berbeda, tetapi tetap berakibat sama: menghilangkan hak hidup manusia.

Novel ini saya selesaikan bertepatan dengan kejadian bom di Surabaya (14 Mei 2018). Artinya, sebentar lagi peringatan 5-18. Ya, menghilangkan nyawa orang seperti hal receh untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan, bahkan mereka sendiri bertindak di atas pembenaran, bukan kebenaran. Saya setuju sekali ketika membaca bagian belakang buku ini. Satu komentar singkat dari Times Literary Supplement, “Kesaksian menggetarkan atas derita mereka yang tertindas; karya fiksi yang memberi suara bagi mereka yang bisu — hidup ata umati.”

Kang berangkat dari suara orang-orang bisu — hidup atau mati. Cerita dimulai dengan narasi dari seorang remaja yang bernama Dong-Ho, yang belakangan diketahui juga sebagai korban dari tragedi ini. Berlanjut ke protagonis-protagonis lain yang memiliki keterkaitan dengan Dong-Ho. Mata Malam menjadi sempurna ketika ditutup dengan epilog yang dibawakan Kang sendiri sebagai penulis. Ia menggambarkan pengalamannya ketika tragedi itu terjadi, keseriusannya mencari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan tragedi ini, juga wawancara dengan orang-orang terkait.

Suara orang mati lebih keras dari kubur, bukan?

“Namun aku tidak mengenal dunia setelah kematian. Apakah di sana juga ada pertemuan juga perpisahan? Apakah di sana juga ada wajah dan suara? Apakah di sana juga ada kegembiraan dan kesedihan? Aku tidak tahu apakah aku harus kasihan atau iri terhadap ayahmu yang sudah tidak bernyawa,” (hlm. 225).

Selain menyuarakan kebisuan, Kang banyak mempertanyakan kematian yang selama ini pengetahuan kita hanya sebatas melalui keyakinan saja. Proses-proses kekerasan dalam buku ini sungguh memilukan. Kalau kata Kang, “Pengalaman itu seperti racun zat radioaktif. Zat radio aktif tersimpan dalam tulang dan otot selama puluhan tahun, sampai akhirnya mengubah kromosom tubuh, mengubah sel tubuh menjadi kanker, sampai membahayakan nyawa. Walau orang itu sudah mati, walau orang itu sudah dikremasi dan hanya tulangnya yang tersisa, zat itu tidak hilang.”

Detail yang digambarkan Kang begitu terbuka seperti langit di siang bolong. Kita bebas membayangkan kesakitan yang dialami para tokoh. Penggaris kayu 30 cm yang menusuk-nusuk ujung rahim puluhan kali, gagang senapan yang mengoyak pintu rahim yang mengakibatkan tidak bisa punya anak selamanya, tembakan di pinggang, dua tembakan untuk mengakhiri hidup seseorang dengan lubang yang menganga di antara kening. Mengerikan.

Korea, 1980, tragedi yang tidak bisa dilupakan. Sepuluh hari yang mencekam langit Gwangju dan menodai mantel putih Korea. Pertempuran sipil dan negara, seperti negara-negara lainnya. Ketika kekuasaan disalahgunakan, ketika moncong senapan lebih dekat ketimbang tangan seseorang, ketika milisi sipil tidak berani memuntahkan satu peluru pun dari moncong senapan mereka, Korea yang kala itu dipimpin oleh Park Chung-hee selama delapan belas tahun (1961-1979) yang juga melakukan kudeta militer untuk memperoleh kekuasaan dari pendahulunya harus jatuh juga.

Bahkan, ia dihabisi oleh Kepala Badan Intelijen (BIN) Pusat Korea. Seperti ia sedang menuai benih yang ia tanam. Dilanjutkan dengan kepemimpinan Chun Doo-hwan yang menjadi kegelapan bagi Gwangju. Darurat militer diberlakukan, media dibungkam, dan para pembangkang ditangkap. Pada akhirnya, negara dan kekerasan seperti sebuah baju yang bisa dipakai terbalik dari sisi dalam ataupun luar. Akan tetapi, peti-peti mati itu tetap diselimuti oleh bendera Korea. Seolah bukan negara yang  melakukannya. Ya, memang bukan. Negara dan penguasa adalah dua hal yang berbeda. Sipil mencintai negara bukan penguasa.

Mata Malam, novel yang sangat sayang dilewatkan terlebih bagi para pembaca yang memiliki latar belakang sejarah negara yang hampir sama. Saling berbagi ingatan tentang kekerasan akan melunakkan hati kita. Saya rasa memasuki kesusastraan Korea melalui Han Kang adalah pintu masuk yang paling luas.

Suatu hari nanti tidak akan kita temukan lagi kekerasan yang dilakukan atas dasar apa  pun. Hak manusia sudah banyak diperjuangkan dengan kematian milik ribuan orang, bahkan kematian milik orang yang masih hidup. Merenggut nyawa seseorang sama dengan merenggut kemanusiaan. Walaupun ada ingatan yang tidak bisa sembuh. Ingatan tersebut tidak memudar seiring berlalunya waktu, tetapi akan menjadi satu-satunya yang tersisa ketika segala yang lain terkikis. Dunia menjadi gelap, seakan-akan lampu listrik padam satu per satu. Aku tahu bahwa aku tidak aman.

Kang berhasil mengemban pesan kakak Dong Ho: tulislah agar tidak ada yang menistakan adik saya lagi!

Selamat istirahat, Dong Ho.

Terima kasih, Kang. (ar/rfh)

Judul : Mata Malam (diterjemahkan dari Human Acts dalam edisi bahasa Korea)
Penulis : Han Kang
Penerjemah : Dwita Rizky
Penerbit : Baca Publishing House
Cetakan : I, Oktober 2017
Tebal buku : 257 halaman
Cover : Hard Cover
Harga :

 

Facebook Comments