Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Menjadi Warganet yang Skeptis

Menjadi Warganet yang Skeptis

The age of information overload atau era banjir informasi merupakan efek berkembangnya media digital. Semua orang dapat mengakses dan menyebarluaskan informasi kapan saja dan di mana saja sepanjang terhubung dengan internet. Ditambah lagi dengan berkembangnya aplikasi media sosial yang memudahkan orang untuk menerima dan membagi informasi. Hal ini akan dapat berdampak positif dan juga negatif tergantung bagaimana warganet menggunakannya.

Akan tetapi, akhir-akhir ini banyak informasi yang bersifat klikbait ‘jebakan klik’, yaitu konten web yang bertujuan mendapatkan keuntungan penghasilan berdasarkan jumlah klik-tayang. Biasanya judul-judul sensasional atau gambar yang memikat digunakan orang-orang yang menyebarkan informasi serupa ini. Hanya saja, tidak semua orang bersikap skeptis – ragu – sehingga enggan mencari informasi dari sumber lain atau membacanya terlebih dahulu baru kemudian dibagikan. Seseorang biasanya langsung membagikan konten web tersebut hanya karena melihat judul artikel konten web tanpa menelusuri kebenarannya.

Berdasarkan masalah itu, tak heran jika Prof. Bagir Manan mengungkapkan kekhawatirannya yang tertuang dalam pengantar untuk buku Blur karangan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel  sebagai berikut “Era serba cepat, serba instan, mendorong media berkompetisi kian ketat. Ekses yg timbul adalah berita yang tidak akurat, tidak berimbang, cenderung dangkal, dan sepotong-sepotong. Media berlomba merespons isu dan menggulirkannya sebagai berita ke masyarakat yang kian gamang karena digempur berbagai informasi, tetapi seringkali gagal menggali akar permasalahan serta menawarkan alternatif solusi. Tatkala kredibilitas media terpuruk, disitulah nilai penting kemerdekaan pers yang profesional terancam.”

Sebenarnya, pernyataan tersebut tidak hanya ditujukan untuk media profesional saja, orang biasa pun ketika disebut sebagai warganet biasa juga turut andil dalam penyebaran informasi yang dikenal dengan istilah citizen journalist, yaitu orang umum yang dapat menyampaikan informasi kepada publik, baik lewat institusi media resmi maupun media sosial.  Dengan begitu, warganet pun sudah sepatutnyalah memiliki disiplin verifikasi yang selama ini dianggap sebagai tugas wartawan saja. Sebabnya, pada era informasi yang sudah overload ini tidak ada lagi yang dapat menyaring informasi sebagaimana di media resmi kalau bukan warganet itu sendiri.

Selain disiplin verifikasi, hal lain yang juga tak kalah penting harus ditanamkan dalam setiap warganet ialah sikap skeptis sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Menurut Bill Kovach dan Rosenstiel ada enam langkah untuk menumbuhkan rasa skeptis atau Skeptical Knowing. Pertama, warganet harus mengenali jenis konten informasi yang didapatkan. Dengan kata lain, pahami isi dan muatan konten membahas isu dan masalah apa kemudian telusuri pada sumber-sumber lain yang lebih terpercaya! Kedua, jika sudah mengetahui isi dan pembahasan informasi tersebut, pastikan kelengkapan informasinya! Ketiga, memastikan bahwa informasi tersebut termasuk katagori berita (berdasarkan fakta) atau hanya sekadar opini dan pendapat penulisnya saja tanpa mencantumkan hasil wawancara dengan narasumber.

Selain itu, identifikasi dari judul jika informasi tersebut dari link yang dibagikan oleh akun tertentu. Jika judulnya mencurigakan, berhentilah untuk membuka link tersebut.  Keempat, evaluasi berita tersebut dan nilailah berdasarkan fakta yang ada! Kelima, berdasarkan penilaian fakta, pelajari lagi informasi tersebut berdasarkan fakta yang ada untuk menentukan tipe produk jurnalistik apa yang tengah dibaca (berita, artikel opini, kolom, suara pembaca) atau hanya konten klikbait! Lalu, carilah  alternatif informasi yang lain agar penilaian lebih akurat! Terakhir adalah proses evaluasi berita. Warganet dituntut untuk meneliti kembali agar informasi tersebut akurat sehingga sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.

Menumbuhkan sikap skeptis tentu saja hal yang mudah bagi orang-orang yang berprofesi sebagai wartawan. Ditambah lagi Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang mengikat profesi mereka. Sebagai warganet yang aktif menggunakan internet, KEJ dan undang-undang yang berkaitan dengan proses penyebaran informasi seharusnya juga harus dipahami oleh setiap warganet. Dengan demikian, apabila warganet sudah memiliki sikap skeptis dan pemahaman tentang skeptical knowing, maka informasi yang berkualitas akan terjaga dan informasi bohong alias hoax tidak lagi bebas berseliweran di media maya dan media nyata. Jadi, sudahkah sebagai warganet, Sahabat Puan skeptis?

Facebook Comments