Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Resensi > Merangkai Mimpi Masa Keemasan Candi Muara Jambi

Merangkai Mimpi Masa Keemasan Candi Muara Jambi

“Amat mungkin untuk menyimpulkan bahwa sumbangan terpenting Muara Jambi bagi warisan budaya dunia terletak bukan pada bangunan gedungnya, tetapi pada kegiatan kecendikiaannya. Seperti diajarkan M. Dumarcay kepada saya, gedung-gedung ini hanyalah cangkang bagi pikiran manusia dan renungan tentang sifat kenyataan.” (John. N.Miksic)

Pernyataan John. N. Miksic tersebut diatas menegaskan arti penting dari candi Muara Jambi. Situs purbakala yang terletak di kabupaten Muara Jambi, provinsi Jambi dengan luas hampir dua ribu hektar ini, memiliki delapan puluh empat titik lokasi candi yang telah menjadi puing-puing. Posisi tepatnya hampir membentang di beberapa bagian sepanjang sungai Batanghari yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera.

Eksistensi kejayaan candi Muara Jambi sebagai pusat pendidikan agama Budha yang memiliki jalinan dengan institusi pendidikan serupa di Asia seperti di Nalanda, India terkuak melalui catatan perjalanan I-tsing. Catatan yang bertahun sekitar enam ratus hingga tujuh ratus Masehi ini, berisi tentang perjalanan I-tsing dalam mempelajari agama Budha menuju India hingga pulau Sumatera melalui jalur laut.

Dari pelabuhan Kanton, Cina I-tsing ke India tidak melalui jalur Sutera lintas benua, tetapi pergi lewat laut. Pelayaran I-tsing ini disebut pelayaran ke selatan menuju kepulauan Melayu yang melewati pulau Sumatera melalui Selat Malaka, kemudian menuju India.  Ditengah perjalanan ini I-tsing sempat mampir selama enam bulan ke sebuah negeri Melayu yang diberi nama Sribhoga.  Ciri petunjuk negeri ini pada waktu tertentu, matahari di waktu siang ketika tepat di atas kepala jika kita berdiri, tidak akan ada bayangan.

Setelah enam bulan I-tsing melanjutkan perjalanan ke India dan tinggal di sana selama delapan belas tahun.  Di India I-tsing belajar di perguruan tinggi agama Budha aliran Mahayana yang pada masa itu merupakan aliran terbesar agama Budha. Selepas itu, I-tsing  dalam perjalanan pulangnya kembali mampir ke  negeri atau kerajaan Sribhoga selama beberapa tahun. Kerajaan ini juga ia sebut San-fo-ts’i yang artinya Melayu.

Persinggahan I-tsing kali ini lah yang menjadi titik terang keberadaan candi Muara Jambi sebagai pusat pendidikan agama Budha yang terhubung dengan Nalanda, India. Disebutkan bahwa kali ini I-tsing singgah di sebuah tempat yang diperkirakan sebagai candi Muara Jambi. Sebab ia menyebut bahwa di loka yang berbenteng, seribu biksu menekuni semua mata pelajaran yang sama seperti di Nalanda. Ia bahkan juga menyalin ratusan naskah Sanskerta sebelum pulang.

Catatan lain tentang eksistensi kejayaan candi Muara Jambi pada masanya, selain merujuk pada catatan I-tsing juga merujuk pada catatan Atisha Dipamkara Shrijnana, seorang biksu yang berasal dari Tibet. Catatan Atisha ini yang paling digunakan untuk menguak eksistensi candi Muara Jambi sebagai pusat pendidikan agama Budha yang diperhitungkan di Asia. Sama halnya dengan I-tsing, catatan Atisha juga menceritakan perjalanannya menuju candi Muara Jambi melalui jalur laut.

Titik balik perjalanan Atisha ada pada tahun 1012, dimana ia bersama seratus dua puluh lima murid dan sekelompok pedagang dari Gujarat yang hendak mencari emas mengarungi laut menuju kerajaan Melayu. Nama Swarnadwipa yang berarti pulau emas, muncul pada catatan Atisha ini. Ia menuju Swarnadwipa untuk menjumpai guru kesayangannya yang bernama Serlingpa, manusia dari pulau emas.

Candi Muara Jambi muncul dalam gambaran perjalanan Atisha kali ini setelah tiga abad perjalan I-tsing, berupa terdapatnya stupa emas yang lokasinya ada di barat hutan Swarnadwipa, di selatan padma-padma riang, di utara rawa-rawa berbahaya, dan di timur buaya Kekeru. Selama empat belas hari Atisha tinggal di lokasi ini dalam upaya perjumpaannya dengan Serlingpa.

Gambaran lainnya dari catatan Atisha tentang candi Muara Jambi kala itu, yaitu  perjalanannya menuju sebuah istana yang disebut dengan istana Payung Perak dan merupakan kediaman Serlingpa. Di istana inilah, Atisha berjumpa gurunya dan mendapatkan pengajaran agama Budha selama lima belas tahun. Di tahun 1025, ia kembali berlayar pulang ke India membawa ajaran yang dipercayakan kepadanya dari Serlingpa.

Selanjutnya, Atisha menjadi tokoh agama Budha yang berpengaruh di Tibet sampai kematiannya pada tahun 1054. Pencapaian Atisha yaitu dapat menyatukan semua aliran agama Budha. Hingga hari ini, ia masih  dimuliakan oleh penganut agama Budha baik di Tibet  dan Cina. Karya Atisha yang paling ternama yaitu  berjudul “Suluh Bagi Jalan Menuju Pencerahan.”

Kejayaan lain yag menghubungkan pertumbuhan candi Muara Jambi sebagai pusat pendidikan agama Budha dengan pusat ekonomi di masanya yaitu ada pada catatan Buku Perjalanan Pedagang Arab Sulaiman, Kitab Jalanan dan Kerajaan karya penulis Persia Ibn Khurdadhbih di abad ke sembilan.  Catatan ini merujuk sebuah tempat yang disebut dengan Zabag  atau yang sekarang dikenal dengan Muara Sabak, pulau berjarak enam puluh kilometer hilir dari candi Muara Jambi yang menjaga jalur masuk sungai ke Muara Jambi.

Catatan perjalanan Marco Polo juga menjadi rujukan yang menggambarkan kondisi kerajaan Melayu yang melingkupi candi Muara Jambi saat itu.  Gambaran Marco Polo tentang kerajaan yang disebut Malaiur sebagai kota yang indah dan mulia dengan bahasa tersendiri, serta perdagangannya yang mashyur.

Catatan-catatan ini kemudian menjadi rujukan perkembangan, pengelolaan dan pemaknaan candi Muara Jambi secara fisik dan filosofis. Buku ini kemudian di tulis berdasarkan catatan-catatan tersebut dan penggalian ingatan masyarakat setempat di sekitar candi Muara Jambi oleh Elizabeth D. Inandak, seorang peneliti dari Perancis yang memang menekuni dan tertarik terhadap penelitian dan kajian tentang Jambi, Muara Jambi dan sejarahnya khususnya.

Maka, dalam buku ini Elizabeth tidak hanya menceritakan secara apik dan ringan tentang sejarah candi Muara Jambi ketika kejayaannya sebagai pusat pendidikan agama Budha di waktu lampau dengan gaya story telling. Elizabeth juga menceritakan bagaimana perkembangan masyarakat di sekitar candi dan persepsinya dalam merawat warisan sejarah candi Muara Jambi hari ini. Masyarakat yang jauh berbeda gambarannya dengan masa lampau.

Sebab pada masa ini, masyarakat yang hidup di sekitar candi Muara Jambi justru orang-orang Melayu beragama Islam dengan tradisi serta adat ke Islamannya yang kental. Namun, mereka ini yang diceritakan oleh Elizabeth dalam buku ini yang menjaga dan merawat candi Muara Jambi dan berupaya mengalami keterbukaan serta ketersinggungan dengan budaya serta agama Budha hingga hari ini.

Kisah-kisah perjalanan I-tsing, Atisha, Serlingpa bahkan akrab dalam benak masyarakat tersebut dan menjadi warisan penuturan mereka. Perlawanan mereka menghadapi perusahaan tambang yang mengancam kepunahan candi Muara Jambi menjadi bagian yang tak luput diceritakan oleh Elizabeth. Pun juga upaya mendorong candi Muara Jambi sebagai warisan budaya Nasional dan dunia, serta cita-cita terbesar masyarakat setempat untuk menghidupkan kembali candi Muara Jambi sebagai ruh perkembangan pengajaran agama Budha berpengaruh di Asia.

Buku ini meskipun dengan bahasa yang ringan, hanya mengandalkan ingatan

masyarakat setempat, namun layak menjadi bacaan untuk memahami bagaimana candi Muara Jambi yang meskipun hanya merupakan susunan batu-bata dan puing-puing, serta hari ini masih terus mengalami proses penggalian dan eskavasi, sebagaimana dikatakan oleh John. N. Misic, yaitu sebagai upaya memahami bahwa candi Muara Jambi sebagai cangkang bagi pikiran manusia dan renungan tentang sifat kenyataan.

Kelebihan buku ini selain ditulis dengan bahasa yang ringan dan bergaya storry Telling, dilengkapi dengan grafis dan gambar, yaitu ditulis dalam empat bahasa ; Perancis, Inggris, Mandarin, Indonesia. Dengan ditulis melalui empat bahasa ini, semoga informasi mengenai keberadaan candi Muara Jambi dapat dipahami oleh masyarakat luas di Indonesia dan dunia.

Judul : Dreams From The Golden Island, Reves De Lile D’or, Mimpi-mimpi dari Pulau  emas
Penulis : Elizabeth D. Inandak
Penerbit : Babad Alas (Yayasan Lokaloka) Yogyakarta bekerjasama dengan Padmasana Foundation Jambi
ISBN : 978-979-18015-5-3
Tahun : 2018
Jumlah halaman : 182 halaman
Cover : Hard Cover
Harga : Rp. 100.000
Facebook Comments