Wednesday, October 17, 2018
Home > Sosok > Putri Birru Shafa Si Pendaki Cilik

Putri Birru Shafa Si Pendaki Cilik

Shafa nama panggilan akrabnya. Usianya belum genap sepuluh tahun, namun perempuan cilik ini telah memiliki pengalaman mendaki gunung tertinggi di Indonesia, di antaranya yaitu gunung Kerinci, Merbabu dan Binaiya. Bahkan ia tak puas hanya mendaki tiga gunung tersebut, rencananya empat gunung tertinggi lainnya akan ia taklukkan dalam waktu dekat bersama sang bunda dan ayah yaitu gunung Cartenz, Lati Mojong, Rinjani dan Bukit Raya.

Siswi kelas empat Sekolah Dasar (SD) Citra Nusantara School Jambi ini memiliki pengalaman mendaki gunung sejak umur tujuh tahun. Gunung Papandayan merupakan gunung pertama yang didakinya bersama sang bunda dan ayah pada akhir tahun 2016 lalu. Saat itu sang bunda hanya berupaya untuk memperkenalkannya pada alam, namun ternyata ia sangat menyukainya. Padahal ketika pendakian kakinya sempat luka tersandung akar pohon.

Tentang pengalaman pertamanya ketika mendaki gunung Papandayan, sang bunda dalam akun media sosialnya menuliskan bahwa anak perempuan semata wayangnya ini tidak hanya mendapat luka di kaki demi mencapai puncak gunung. Ia juga didera rasa capek, nafas yang cukup lumayan ngos-ngosan. Akan tetapi ia tetap menunjukkan semangat yang membara. Bahkan sebuah tanjakan yang teramat terjal mampu dilaluinya tanpa mengeluh apalagi merengek. Beberapa tanjakan lain pun ia lewati sendiri tanpa bantuan.

Begitulah, perempuan cilik yang juga pecinta kucing ini akhirnya sangat menikmati perjalanan mendaki gunung dan juga ke tempat-tempat wisata lainnya. Terpublikasi di akun media sosial sang bunda, sejak itu ia mulai mencoba mendaki gunung Gede yang kemudian dilanjutkan dengan tiga gunung tertinggi sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Perjalanaannya ini membawanya lebih dekat ke alam, mengenal budaya, tempat serta bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah.

Pada kesempatan wawancara dengan Puan.co, ia pun mengungkapkan bahwa pengalaman mendaki yang paling berkesan baginya adalah ketika mendaki gunung Binaiya di kepulauan Seram, provinsi Maluku sekitar bulan April lalu. Gunung dengan ketinggian 3.027 mdpl ini memiliki medan yang cukup sulit, berlumpur, terjal, tanjakan curam, berbatu licin dan tajam hingga harus menyusuri jurang, demikian ulas sang bunda.

Akan tetapi pemandangan di gunung Binaiya justru membuatnya jatuh cinta, gembira dan terkesima. Di gunung inilah pertama kali ia melihat puluhan kunang-kunang yang mengintip dari balik dedaunan. Ia juga menyaksikan di alam terbuka  hamparan bintang-bintang yang bertaburan seperti bukit berlian di langit luas. Meneguk air yang sungguh jernih dari sungai yang ditemui hingga mandi melepas penat. Bahkan sempat seperti berjalan diatas pelangi ketika pelangi muncul di sekitar Binaiya.

Selain pengalaman yang mengesankan ketika mendaki gunung Binaiya, ia juga memiliki pengalaman sedih ketika mendaki gunung Rinjani pada akhir tahun 2017. Sebab pada pendakian kali itu yang diniatkan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan, justru gagal mencapai puncak. Sang bunda memaparkan kegagalannya karena cuaca dan manajemen perjalanan yang tidak bagus. Itulah mengapa Rinjani kemudian menjadi daftar yang dimasukkan kembali untuk cita-cita menyelesaikan seven summit.

Dari pengalaman mendaki beberapa gunung dan cita-citanya yang luar biasa kuat untuk menyelesaikan seven summit (mendaki tujuh gunung tertinggi), ia merasakan dampak yang luar biasa terhadap dirinya yang diakui oleh sang bunda. Dampak yang paling terlihat yaitu dari sisi kemandirian dan tanggung jawab. Sebab jika akan berangkat mendaki, ia diwajibkan untuk membantu packing dan selama perjalanan ia kebagian tugas sederhana seperti menyiapkan sleeping bag, meniup matras atau melipatnya kembali.

Tidak ada persiapan khusus maupun kendala selama melakukan pendakian meskipun ia masih tergolong kanak-kanak. Selain pakaian yang agak banyak baginya, sang bunda hanya mempersiapkan obat alergi karena memang ia kerap menderita alergi dan sinus, namun ini tidak menjadi halangan berarti. Disamping itu, sang bunda juga harus megatur pola makan dan minumnya selama perjalanan seperti mempersiapkan biskuit dan camilan agar asam lambungnya tidak naik, mengingat ia memiliki kadar asam lambung yang tinggi.

Jika pun terlalu capek, ia hanya menangis dan berhenti sejenak. Menurut sang bunda, setelah melalui sebuah diskusi dengannya, menangis merupakan caranya melepaskan beban penat yang ditanggungnya selama perjalanan, namun setelah menangis ia merasa lega dan bisa berjalan ringan serta penuh semangat kembali untuk mendaki.

Dalam hal kesukaannya berpetualang dan travelling, sang bunda memang berperan besar mewarisi hobi ini kepada perempuan cilik yang juga bisa memainkan piano dengan lagu-lagu klasik seperti romance D’amore, Canon in D dan lain-lain. Inilah yang menyebabkan ia dan sang bunda tidak bisa dipisahkan dalam satu tim perjalanan, sementara sang ayah mensupport keduanya dan juga kerap menyertainya.

Satu tim keluarga ini pun kemudian selalu kompak menyesuaikan waktu libur dan jadwal cuti kerja untuk dapat melakukan perjalanan dan pendakian yang telah menjadi hobi mereka agar dapat bersama selalu.

Kepada sahabat Puan, ia dan sang bunda mengabarkan bahwa alam Indonesia sangat indah. Ada banyak tempat di Indonesia yang patut untuk dikunjungi karena keindahan dan kekayaan alamnya.

Biodata :

Nama : Putri Birru Shafa
Panggilan : Shafa
TTL : Jakarta, 24 Desember 2008
Sekolah : Citra Nusantara School, kelas IV
Hobi : Travelling, hiking, bermain piano, membaca buku
Cita-Cita : Menjadi dokter hewan
Nama Ayah : Sigit Nur Hidayat
Nama Ibu : Gita Anggraini
Alamat Rumah : Komplek Pertamina C4 Jl. Bajubang No. 209 A Kenali Asam Atas- Kota Baru -JambiShafa
Facebook Comments