Wednesday, August 15, 2018
Home > Literasi > Resensi > Sebuah Petualangan Menyusuri Penjuru Negeri

Sebuah Petualangan Menyusuri Penjuru Negeri

Apa yang kaupikirkan tentang dendam? Dan apa pula yang kaurasakan ketika sakit hati? Tentu saja keduanya membekas dan mengendap begitu lama? Sampai kapan? Ya, tergantung individunya. Bisakah ia move dan meng-kicknya atau terlarut dalam keadaan monoton. Dalam memoar ini Fiersa tampaknya memang tidak sekedar iseng dalam berkelana. Eksplorasi dan ekspedisi yang dilakukannya bukan semata sensasi individu, tapi untuk semua orang yang mencintai negeri ini. Ia memang bukan seorang traveler yang punya uang banyak—perlente. Bermodalkan nebeng—mungkin itu terdengar bodoh dan tak masuk akal. Namun dengan cara itu ia seakan membuktikan bedanya petualang dan pelancong. Jika satunya bertemu orang, pengalaman dan cerita baru maka yang lainnya tidak.

Kisah ini bermula dari rasa cintanya kepada seorang bernama Mia. Perempuan memberikan satu alasan untuk pergi meninggalkan kota kelahirannya. Sejak hatinya hancur bukan karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Bukan juga karena perpisahan yang membuatnya harus menemukan jati diri sesungguhnya. Namun cerita itu semacam pergolakkan batin dengan cara yang paling menyakitkan. Perasaannya remuk redam oleh sahabat sekaligus orang kepercayaannya di studio rekaman miliknya, Al.

Bung—sapaan si penulis—yang suka musik, memiliki band yang berambisi bersolo karier. Lantas, ia pun membuat segala sesuatu atas inisiatifnya sendiri. Mulai dari mengemas musik, mendesains kaver album hingga ke tahap promosi. Ketika albumnya dipublikasi itu diterima khalayak, ia merasa sukses. Bukan melulu dari materi tapi karena segala kerja kerasnya terbayar tuntas. Setelahnya, Bung mencoba peruntungan di bidang lain,  fotografi. Ia belajar dari sahabatnya, Tama, seorang fotografer profesional. Namun sayangnya kesibukan barunya membuat keintiman dengan Mia sedikit terganggu. Dan … diam-diam Al hadir di sana—untuk Mia—maka kehancuran Bung dimulai.

Bung yang berlatar belakang sastra ini, sama sekali tak menduga jika arah hidupnya mencintai alam terbuka. Berkelana. Perkenalannya dengan Prem melalui Twiter adalah cikal bakal sebuah hubungan persahabatan yang mempertemukann hobi yang sama. Berpetualang menyusuri penjuru negeri dengan cara ala backpacker. Baduy—seorang lelaki yang punya usaha tour and traveling turut mengaminkan keinginan mereka. Jadilah mereka trio pemberani yang mengurai beragam kisah penuh warna.

Buku ini bukanlah semacam diary yang penuh cinta alay dan drama yang manis. Bukan juga menawarkan sederet pengalaman dari cinta itu sendiri. Sebab cintanya sudah tergantikan pengalaman hebat di luar sana. Perasaannya bercampur aduk ketika merasakan pesona dan kekuatan yang ditemukan alam di penjuru negeri yang belum terjamah media. Ada sesuatu yang rasanya seperti tarik menarik di dalam dirinya. “Bukanlah kenangan terburuk yang akan membuat kita bersedih, tapi kenangan terindah yang tak akan terulang lagi (hlm 246).

Dalam buku setebal 300 halaman ini, Bung banyak menyisipkan pesan dan kesan mendalam yang bermakna. Seperti ketika ia mengenal orang Batak. Dalam pikirannya, lelaki Batak digambarkan menjadi orang yang kaku, keras dan tak mungkin bersahabat. Namun sayangnya itu terbantahkan ketika ia diajak ke Lapo Tuak. Dan dari sana ia menyimpulkan, “Keras diluar, tapi lembut di dalam (hlm 117). Artinya jika mereka sudah di Lapo Tuak, tak peduli ia adalah sopir, pedagang, pejabat, polisi atau orang biasa maka di sini tak ada perbedaan. Semuanya menjadi satu tanpa adanya perbedaan yang mencolok.

Jika saja buku ini semacam jurnal keuangan dalam bertraveler,  tentu di sana sini ditemukan kalimat pakem yang membosankan. Di sinilah letak perbedaannya antara dirinya dan penutur lainnya. Dengan gaya bercerita ala novelis, Bung berhasil membuat pembaca seakan dibawa dari satu tempat eksotis ke tempat lain. Dengan sisipan foto yang dijepretnya full colour di antara halaman, menambah nilai plus dari buku ini. Dialog yang terasa hidup dengan kedua sahabat dan orang-orang yang dikenalnya secara tak terduga. Maka pembaca semakin asik menelusuri semesta yang ada di pikiran Bung.

Buku ini juga sedikit banyak memberikan informasi bermanfaat bagi pendaki gunung pemula. Berpijak dari pengalaman di medan terjal, curam dan berliku ternyata teori terkadang diragukan kevalidannya. Bung memang tak melulu merincikan biaya dan perkakas apa yang musti dipersiapkan. Tapi ia meletupkan semangat keberanian, tekad yang kuat dan tentu saja kebersamaan terus terjaga. Seperti katanya ketika mendaki dan berada di puncak Gunung Sumeru. “Di ketingggian, aku merasa kecil. Aku merasa tidak menaklukkan gunung, justru gununglah yang menaklukkan kesombonganku (hlm 183).

Di akhir bab, kita seakan diingatkan kembali tentang kerinduan. Rasanya Bung sengaja mencari momen bulan puasa di sana. Ia bertemu Shinta. Seorang sahabat yang kebetulan pulang kampung. Maka punahlah kerinduan pada keluaraga terutama ibunya yang kerap menghawatirkan keadaannya. Berlebaranlah ia di Manado. Dalam hati kecilnya ia menjerit, “Yang paling aku senang dalam petualangan adalah: sejauh apapun kita tempuh, tujuan akhir selalu rumah (hlm 235).

Petualang adalah manusia biasa yang mampu merasakan pedih, penghianatan dan tentu ada pengorbanan yang harus dibayar. Setidaknya dari buku ini kita bisa belajar tentang apa yang dipikirkan orang tak seperti apa yang ditakutkan selama ini. Pikiranlah yang mempengaruhi, mencekoki dan menghantui layaknya media masa yang terkadang berlebihan. Nyatanya tidak demikian dengan kenyataan yang ada. Dunia memang kejam, tapi tak semua serupa preman yang berwajah sangar. Justru dari setiap ketakutan yang ada itu muncul kekuatan tersembunyi. Bahwa di dunia yang fana ini—sekejam apapun itu—kita tidak sendiri. Ada sesuatu yang membuat kita memang tak sendirian menghadapi segala suka dan duka.

Judul : Arah Langkah
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : Mediakita
Cetakan : Pertama, 2018
Ketebalan : 300 halaman, 13×19 cm
ISBN : 978-979-7944-561-9

Biodata:

Sugianto adalah penikmat kopi, pengagum sastra klasik dan penggiat literasi. Saat ini penulis berdomisili di Jambi. Bisa ditemui di fesbuk dengan akun Gie. IG: @mitra-buku.

Facebook Comments