Wednesday, October 17, 2018
Home > Literasi > Cerita > Mencintai Orang yang Tak Pernah Kaucintai

Mencintai Orang yang Tak Pernah Kaucintai

Dengannya, saat itu kau masih memikirkan apa yang seharusnya kaulakukan. Sedang senja sudah semakin menua, dan orang-orang sudah mulai menepi dari keramaian. Dari sudut barat, perlahan-lahan ingga-jingga beralih gelap. Malam akan tiba sebentar lagi.

“Apakah kau benar-benar yakin?”

Dia hanya mengangguk. Senyum di bibir tipisnya memang tak semerona biasanya, tapi cukup untuk membuatmu tenang beberapa saat sampai akhirnya harus gusar lagi. Kau masih ragu-ragu.

Sebenarnya apa yang sedang kaupikirkan hampir sama saja dengan apa yang sedang dia pikirkan. Dari balik kacamata itu, sorot matamu tampak sembap. Ada isyarat bahwa kau baru saja terjerembap, dan kau menunggu sikap. Dia bukan orang yang sebenarnya berhak kausalahkan, atau kauminta pertanggungjawaban. Dia hanyalah orang yang ada dan berniat selalu ada untukmu.

“Tapi bagaimana kelanjutannya nanti?”

Kau masih saja belum benar-benar percaya padanya. Mungkin, dalam batinmu, ada yang mengganjal dari jawabannya. Rambutnya yang lurus, jatuh sampai menutupi sebagian mata kanannya saat menunduk. Ketika dia mengangkat kepalanya, menatap ke depan, lalu berkata, “kita pikirkan nanti.”

“Itu bukan jawaban, No. Itu bukan jawaban yang bisa menenangkanku.”

“Tapi, untuk sementara, itulah jawaban yang bisa menenangkanku.”

“Kau tak mengerti perempuan, lalu kenapa berani bilang cinta?”

“Jika kau tak mengerti laki-laki, kenapa berani menerima cinta?”

Percuma saja, Lastri. Berapa kali pun kau memaksa Tono, dia tetaplah dia. Kalian mungkin pernah punya satu hati, tapi tetap pada dua kepala. Untuk apa lagi kau mengharapkannya, sedangkan semua orang tahu, kaulah yang salah.

“Apa kau tega melihatku seperti ini?”

“Justru karena aku tidak tega.”

“Kenapa kau tak bunuh aku saja?”

“Dan kau memaksa aku menyesal seumur hidupku?”

“Tapi aku sudah menyesal seumur hidupku. Kau harus bayangkan itu, Tono. Atau setidaknya, kau harus pikirkan aku juga. Kita seharusnya….”

“Seharusnya apa?”

Itu cukup membuatmu terdiam.

Kau ini, masih saja keras kepala. Masih untung dia mau mendengarkan ceritamu. Bayangkan jika kau cerita pada ibumu, dia hanya akan menangis dan mengusirmu dari rumah. Kau hanya akan jadi orang gila yang tertawa-tawa sendiri membawa pikiranmu yang tak tentu arah. Atau, bisa saja kau menjadi gelandangan yang mengais-ngais di tong sampah.

Mungkin kau berpikir, bisa menceritakan semuanya pada ayahmu. Tapi kau ingat sendiri kan, bagaimana dia pernah mengejar orang yang menumpang tinggal di rumahmu ketika kau masih kecil dengan parang tajam dan panjang di tangannya hanya karena mencuri ayam tetangga? Itu lebih gila. Dia bisa saja melakukan apa saja padamu, bahkan jika kau seorang perempuan sekali pun.

Lagi pula, di kota seperti ini, tanpa keahlian, kau bisa apa?

Itulah sebabnya. Jadi, kau harus tahu, Tono sudah berbaik hati padamu. Jika kauingat-ingat lagi, Lastri, siapa lagi yang akan menolongmu saat-saat seperti ini.

Sejak SMA, Tono sudah mencintaimu. Setiap hari kalian bercerita apa saja di kampung. Bahkan, jika ayahmu melarang kau mendekatinya, dia tetap mencintaimu. Dia tak peduli apa-apa, dan tak takut dengan ancaman apa pun. Tapi sayangnya, kau masih saja meragukannya.

Begini, jika kauingat-ingat lagi, ketika menjelang kelulusan SMA, kau malah memilih Karso yang kaya. Entah apa yang membuatmu akhirnya malah menerima cintanya. Jika kaukatakan cinta tak memandang harta, kau baru saja mengingkari kata-katamu sendiri.

Tono hanya melihat kemesraan kalian setiap hari.

Ketika kau memutuskan untuk ke kota, berkuliah, sebisa mungkin dia mencari alasan untuk ke kota yang sama. Dia kerja serabutan demi tetap bertahan hidup.  Lagi-lagi, kau begitu malu mengakui, bahkan untuk sekadar merasa kenal dengannya.

Sekali waktu, kau dan Karso sedang menghabiskan waktu bersama. Senja yang kian menua itu kalian habiskan. Semilir angin, gemercik air di sungai kecil dekat sana, menjadi suasana yang seolah-olah tak membuat kalian bosan.

“Nanti, jika aku sudah selesai kuliah, apa kamu benar-benar akan melamarku?”

“Tentu saja, kita akan menikah. Kenapa kau tak yakin padaku?”

“Bukan tidak yakin, tapi aku sudah tidak sabar.”

Yang harus kautahu, Lastri, setiap orang punya penafsiran berbeda dalam mengartikan kata-kata. Kau bisa saja tulus dengannya, tapi belum tentu dia setulus itu padamu.

Ibumu pernah bilang, jangan terlalu percaya pada laki-laki. Itulah yang akhirnya membuatmu menolak Tono mentah-mentah. Padahal bukan karena itu, hanya karena kau tak pernah benar-benar bisa menerimanya untuk hadir dalam hidupmu, sebaik apa pun dia padamu.

Yang terjadi selanjutnya adalah romantika anak muda yang masih terlalu meraba-raba dalam membaca aura kehidupan. Kau berpikir Karso akan benar-benar menjadi jodohmu, padahal sebenarnya tak sesederhana itu. Yang sedang kaupikirkan itu sebenarnya apa, Lastri?

“Kamu sayang tidak, sama aku?” itu pertanyaan bodoh. Jangan pernah mempertanyakan apa pun tentang perasaan pada laki-laki. Mereka pembohong. Kau hanya perlu membuktikannya melalui sikap, bukan sekadar kata-kata.

“Ya iyalah. Aku sayang kamu, Lastri. Apa lagi yang kamu ragukan dari aku? Toh, kita kan sudah pacaran sejak lama. Sejak SMA. Jadi, kamu tidak perlu lagi ragukan apa yang aku rasakan, karena sudah tentu jawabannya sama, dan akan selalu sama.”

Ingat kata ibumu, Lastri. Kau jangan jadi perempuan bodoh. Laki-laki seperti itu bisa saja mengatakan apa pun padamu. Jangan mudah percaya mulut. Kau harus percaya pada hati.

Tapi kau tak percaya!

Di tempat itu, kalau kauingat, dia mengatakan kata sayang berkali-kali padamu. Bahkan, jika saja kau tahu bahasa burung-burung yang pulang dari perantauan seharian mencari makan itu, mereka sangat jijik mendengarnya. Semua hanya gombal, tak ada yang bisa kaupercaya.

Gerimis turun kemudian. Kalian berdua hanyut dalam perasaan, melupakan keadaan.

Basah!

Di sebuah warung yang telah tutup, kalian berteduh kemudian, bercerita apa saja sambil terkikih dan tertawa. Lalu kalian menceritakan Tono.

Malang nian pemuda itu. Salah apa dia padamu? Jangan hanya dia benar-benar mencintaimu dan kau tak mencintainya selama ini seolah-olah menjadikanmu bisa menghinanya dan menganggapnya menjadi apa saja. Dia tak pernah serendah itu.

Karso tertawa mendengar ceritamu.

“Jadi, anak miskin itu mencintaimu?”

“Iya. Aku juga tidak tahu pasti. Itu hanya kata orang-orang. Kata mereka, dia cinta mati padaku. Aku sudah menolaknya berkali-kali, tapi dia tetap saja berpikir aku adalah jodohnya—maksudku, aku akan mau padanya. Padahal tidak pernah.”

Kalian tertawa.

Ingatlah, ibumu tak pernah mengajarkanmu seperti itu, Lastri. Dia selalu berpikir, kau orang baik. Seharusnya kau menjaga kepercayaanya, dan jangan pernah sekali-kali membuatnya bersedih karena sikapmu.

“Lastri, jika kau besar nanti, kau pasti cantik. Ibu ingin sekali melihatmu menikah dengan orang yang kaupilih,” kata ibumu sekali waktu.

Ayahmu tak pernah benar-benar peduli padamu. Dia hanya menganggapmu ada ketika kau berada di hadapannya, ketika kau menjadi nyata di depan matanya. Tapi jika kau tak ada, dia akan lupa dan sibuk mencari kehidupannya yang lain. Hanya ibumu yang akhirnya ikhlas menerima sikap ayahmu.

Dia terlalu menakutkan untuk menikmati kasih sayang. Entah siapa yang berani menghadapnya jika ingin melamarmu suatu waktu nanti. Tapi ibumu percaya, kau akan hidup bersama orang baik.

Ketika kau memilih untuk menerima cinta Karso, ibumu senang sekali. Siapa yang tak senang dengan anak konglomerat kampung, juragan kambing yang sudah dikenal. Lagi pula, ibumu pecaya, dia orang baik.

Sebenarnya, ibumu tak pernah mengkhawatirkan kau dengan siapa pun. Baik dengan Karso, mau pun dengan Tono. Toh, semuanya sama-sama laki-laki. Tapi kau memilih Karso, karena memang dia terlihat lebih pantas menemanimu untuk masa depan.

Namun sekali lagi, ayahmu tak pernah benar-benar peduli padamu. Dia hanya menganggap setiap laki-laki selain dirinya adalah bajingan. Jadi, siapa pun yang akan datang melamarmu, baginya hanyalah bajingan yang akan menemani hidupmu.

Hanya ibumu yang tahu kisahnya.

Dulu, ibumu bukanlah siapa-siapa di kampung itu. Dia hanya anak yatim piatu. Ayahmu benar-benar mencintainya dan pada akhirnya menikahinya. Orang-orang sempat tak percaya. Bahkan, laki-laki di kampung itu merendahkannya. Tapi dia tak pernah memedulikan itu. Baginya, mencintai ibumu adalah satu di antara kebaikan-kebaikan yang bisa dia lakukan.

Begitulah dia. Kau tahu, dia juga ingin yang terbaik untuk anaknya.

Karso adalah pilihanmu. Senja itu kalian lewati bersama. Tono menyaksikanmu dari kejauhan, dengan perasaan yang benar-benar hancur tak keruan. Dipegangnya dada yang sesak sambil menahan tangis yang hendak pecah sekuat tenaga. Lalu dia pergi.

Kau tak pernah tahu betapa hancurnya hati seorang laki-laki jika melihatmu seperti itu. Biar saja perasaannya telah jadi berkeping-keping, tapi yang jelas dilihatnya kau bahagia.

Tapi tidak sebahagia itu pada akhirnya.

Sekali lagi, ingatlah kata ibumu. Sepercaya apa pun dia bahwa kau akan memilih yang terbaik, tapi baginya, setiap laki-laki pandai berbohong. Kau tidak boleh terlalu percaya. Setiap orang bisa saja mengatasnamakan cinta.

Senja itu kian berlalu.

Sebenarnya apa yang sedang kaupikirkan hampir sama saja dengan apa yang sedang dia pikirkan. Dari balik kacamata itu, sorot matamu tampak sembap. Ada isyarat bahwa kau baru saja terjerembap, dan kau menunggu sikap. Dia bukan orang yang sebenarnya berhak kausalahkan, atau kauminta pertanggungjawaban. Dia hanyalah orang yang ada dan berniat selalu ada untukmu.

Dia hanya mengangguk. Senyum di bibir tipisnya memang tak semerona biasanya, tapi cukup untuk membuatmu tenang beberapa saat sampai akhirnya harus gusar lagi. Kau masih ragu-ragu.

“Apakah kau benar-benar yakin?”

Dengannya, saat itu kau masih memikirkan apa yang seharusnya kaulakukan. Sedang senja sudah semakin menua, dan orang-orang sudah mulai menepi dari keramaian. Dari sudut barat, perlahan-lahan ingga-jingga beralih gelap. Malam akan tiba sebentar lagi.

Kau masih memegang perutmu yang mengandung janin, sedang dia bukanlah orang yang pantas mempertanggungjawabkan dosa-dosa.

“Sebenarnya, apa yang telah kaulakukan dengannya?”

Dan kalimatnya seolah menjadi satu di antara alasan mengapa kau harus mencintai orang yang tak pernah kaucintai.

(Jambi, 2018)


Mareza Sutan Ahli Jannah berdomisili di Jambi. Berprofesi sebagai jurnalis multimedia dan editor lepas. Noveletnya berjudul “Nang” menjadi juara 1 dalam Lomba Novelet Mazaya Publishing House 2017 lalu. Untuk menghubunginya silakan melalui facebook Mareza Sutan Ahlijannah. Galeri fotonya, silakan dilihat di instagram @marezasutan.

Facebook Comments