Thursday, May 23, 2019
Home > Literasi > Opini/esai > PUIS-PUISI: BJ. AKID*

PUIS-PUISI: BJ. AKID*

Ayat-Ayat Sunyi

 

/1/

Musim hujan hanya datang

Satukali dalam perjumpaan

Ketika kemrau menggugurkan

Tangkai mimpi, dan engkau

Cepat pergi, Terdiam di sudut sepi.

/2/

Demikian engkau perjuankan

Sabilah angan, dengan kelopak

Mawar di halaman, tanpa tau,

Bahwa angin telah menunggu

Di pemetang jalan bisu.

/3/

Lihatlah burung-burung rekah

Dalam tatapanku, hinggap di kali,

Di mana kesempatan biasa berdiri,

Untuk menyambut luka di Rahim

Pagi, lalu keman hilangnya aroma

Bayang, ketika tatapan mengepal

Di sepenjang pertemuan.

/4/

Akhirnya masih saja kita bicarakan,

Perihal sebiji luka di tanah rantau,

Serupa karang di pinggir lautan

Keduanya semakin pelik kita rasakan.

/5/

Maka muntahkan bayanganmu

Sebab kesejatian hanya milik rindu

Angin dan hujan terus berjenjang

Melafadkan arti kebohongan.

Lubtara,2019

Dongeng Rindu Buat Laura

 

Laura. musim-musim telah bertandang

Dalam tatapanmu, menyimpan asin airlautan

Dengan sirip ikan-ikan yang menjelma kupu-kupu,

Aku sangka mata bening itu, adalah cahaya bintang,

Yang memaksaku agar segera kempali pada angan,

Berapa nasip sudah aku arsip, dari warna-warna daun

Sampai kepada yang rabu, selalu aku alirkan

Kesepanjang sungai, sehingga jatuhan-jatuhan luka

Sangat gampang untuk berkilau.

Tak ada yang lebih indah, kecuali

Aroma tanah yang sering basah, menakwil

Keraguan seorang pengelana, ketika

Kesampurnaan hanya bertandang di kerumunan doa.

Lubtara,2019

Jalan Menuju Rindu

 

Gaun merah, adalah tali sejarah, Sebelum

hujan-hujan turun, Merapal luka dalam kampung

Kembang dari suluk ingatan, Memancarkan kesunyian,

Bercerita tentang seorang perempuan, yang belajar

Mengubur senja di tanah garam.

Barangkali hujan tak kan turun malam ini

Sebab di balik mimpi pohon, angin bersiur

Seperti mengutuk embun menjadi kasur,

Sementara di sepanjang jalan, trotoar terdiam,

Melihat sepesang kelelawar yang sedang berciuman

Lubtara,2019

Arsip Januari

 

Selepas hujan turun, membasahi rumah tua

Yang bocor dalam dada, angin meniup kelopak

Mawar, dengan tiupan januari yang kedinginan

Akankah? Malam-malam masih bernoda

Dalam senyummu, seperti kebisuan waktu

Yang menuliskan angka rindu, sementar bekas

Bayang-bayang masih terikat pada masalalu,

Aku terlalu pasra mengendari malam

Diam adalah jalan satu-satunya

Dari pada ramai, sebab kesunyian tetap

Kita pertahan kan, walau tidak

begitu indah untuk di kenang.

Lubtara,2019

Purnama Awal Tahun

 

Siuran angin tenggara, sepeti berbisik kepadaku

Mengabarkan dingin hujan malam purnama

Yang tiba-tiba jatuh dengan sebungkus roti

Dimija makan, dan membangun kan kucing

Yang sedang bermimpi jadi anjing.

Janagan-jangan purnama itu akan menyinari

Tulang namaku, nama yang dilahirkan di kota

Tua dengan aksara-aksara indah dan bercahaya,

Di mana debu-debu jalanan

Tetap percaya dalam pengelanaan

Merubah diri jadi basah, dan kembali

Pada asalmula ia merabah.

Lubtara,2019

Revolusi Cinta

 

Akupun tak pernah menyangka

Bahwa kebencian adalah nyawa,

Nyawa bagi anak-anak rindu

Di setiap waktu yang telah berlalu,

Dari ladang ibu

Tanah basah jadi abu

Kerontang dalam tatapan

Ketika hujan membawa kebosanan

Namun sekarang

Debu tak dapat bertalu

Ia hanya tau pada hakikat mata

Setelah keterasingan menyentuh luka.

Lubtara,2019

Pesan Diam

 

Tiada persembahan untukmu

Kecuali riak rasa di kamar bisu

Langit kamar yang merahasiakan lampu

Ia lebih cermat menyampaikan cahaya wajahmu

Tak pernah aku sangka

Debu-debu di meja tua

Rupanya telah mengutuk suara

Suara dari tangis perawan rantau

Yang pulang dengan bayi dalam genggaman.

Lubtara,2019

Pertanyaan Pada Malam

 

Pada sebaris alismu yang gelap

Kutanyakan pada malam

Perihal misteri rindu di tubuh api

Akankah tiada cahaya selain sunyi

Selalu asmara yang memaksa

Pada percakapan di balik rasa

Terang dan kedap

Adalah bisikan dalam harap

Adapun rindu sering berdiskusi

Bertanya di antara beberapa penantian

Yang telah tunbang di tengah malam

Hanya tanganku yang tak pernah sampai

Untuk merahasiakan bayang-bayang

Ketika malam mulai bertanya kesejatian

Dan engkaupun sudah jauh menghilang

Di telan kabar yang baru aku dengar

Lubtara,2019

Perang Kabar

 

Ketika malam telah melahirkan

Tentang kabar kelam dari masa silam

Anginpun mulai berderai

Menyimak nasib dalam perantauan

Pedang-pedang kata

Yang selalu di tancapkan pada kabar

Mekar dalam perasangka yang pudar

Megarsirkan warna palsu

Di pertengahan jalan ragu

Akhirnya aku temukan juga

Peta suara di lubuk kesakitan

Ketika mulut-mulut perempuan

Tiada bedanya dengan pertengkaran.

Lubtara,2019

Asmara Yang Tersesat

 

Sejak rasa kembali menyekat

Pada sebongkahan awan yang pekat

Aku pun telah tiada

Dalam kebencian pesona cinta

Kegelisahan yang aku kawinkan

Di antara bayang-bayang dan diam

Rupanya telah berwarna

Pada cahaya menjelang purnama

Seharusnya kita selalu lebih awal

Dalam memaknai garis rindu

Sebab keterasingan bagi waktu

Tiada lain hanyalah bisu

Lubtara,2019

Tanah Janji

 

Di sanalah, kita telah menanam harkat rasa

Menyiramnya dengan aliran sunyi

Menjelang matahari lahir di Rahim janji

Debu-debu rindu

Seperti berbisik kepadaku

Tentang kemana aliran hujan di kotamu

Yang pernah kita tenun dalam warna semu

Bolong-bolong cinta,

Retak-retak asmara

Semua telah bernada pada seliris suara

Untuk kemudian berkata;

Tentang kepalsuan janji

Di sepanjang tanah ini.

Lubtara,2019

Surat Hujan

Kebisuan yang aku sulam

Pada jatuhnya hujan di halaman

Telah mendinginkan kelopak mawar

Di sepanjang angan yang mulai tawar

Angin begitu pandai masuk di jendela

Berangsur menyimpan bening rasa

Sebelum nama-nama cahaya

aku hafalkan sebagai doa

Kemudian dari bening malam

Daun-daun jatuh mengiringi hujan

Mengirim surat perpisahan

Dalam perasangka di luar dugaan.

Lubtara,2019

 



AKID,
Lahir Di Lebbeng Barat Pasongsongan Sumenep, Madura, Menulis Puisi Dan Cerpen. Saat Ini Masih Tercatat Sebagai Santri Pondok Pesantren Annuqayah. Menjadi Ketua Komunitas Laskar Pena PPA Lubtara, Sekaligus Pengamat Litrasi Di Sanggar Becak Dan Kumunitas Surau Bambu. No.Hp:085330506988

Facebook Comments