Wednesday, November 25, 2020
Home > Literasi > Resensi > Merangkai Mimpi Masa Keemasan Candi Muara Jambi

Merangkai Mimpi Masa Keemasan Candi Muara Jambi

“Amat mungkin untuk menyimpulkan bahwa sumbangan terpenting Muara Jambi bagi warisan budaya dunia terletak bukan pada bangunan gedungnya, tetapi pada kegiatan kecendikiaannya. Seperti diajarkan M. Dumarcay kepada saya, gedung-gedung ini hanyalah cangkang bagi pikiran manusia dan renungan tentang sifat kenyataan.” (John. N.Miksic)

Pernyataan John. N. Miksic tersebut diatas menegaskan arti penting dari candi Muara Jambi. Situs purbakala yang terletak di kabupaten Muara Jambi, provinsi Jambi dengan luas hampir dua ribu hektar ini, memiliki delapan puluh empat titik lokasi candi yang telah menjadi puing-puing. Posisi tepatnya hampir membentang di beberapa bagian sepanjang sungai Batanghari yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera.

Eksistensi kejayaan candi Muara Jambi sebagai pusat pendidikan agama Budha yang memiliki jalinan dengan institusi pendidikan serupa di Asia seperti di Nalanda, India terkuak melalui catatan perjalanan I-tsing. Catatan yang bertahun sekitar enam ratus hingga tujuh ratus Masehi ini, berisi tentang perjalanan I-tsing dalam mempelajari agama Budha menuju India hingga pulau Sumatera melalui jalur laut.

Dari pelabuhan Kanton, Cina I-tsing ke India tidak melalui jalur Sutera lintas benua, tetapi pergi lewat laut. Pelayaran I-tsing ini disebut pelayaran ke selatan menuju kepulauan Melayu yang melewati pulau Sumatera melalui Selat Malaka, kemudian menuju India.  Ditengah perjalanan ini I-tsing sempat mampir selama enam bulan ke sebuah negeri Melayu yang diberi nama Sribhoga.  Ciri petunjuk negeri ini pada waktu tertentu, matahari di waktu siang ketika tepat di atas kepala jika kita berdiri, tidak akan ada bayangan.

Setelah enam bulan I-tsing melanjutkan perjalanan ke India dan tinggal di sana selama delapan belas tahun.  Di India I-tsing belajar di perguruan tinggi agama Budha aliran Mahayana yang pada masa itu merupakan aliran terbesar agama Budha. Selepas itu, I-tsing  dalam perjalanan pulangnya kembali mampir ke  negeri atau kerajaan Sribhoga selama beberapa tahun. Kerajaan ini juga ia sebut San-fo-ts’i yang artinya Melayu.

Facebook Comments