Wednesday, November 25, 2020
Home > Literasi > Pendidikan > Membumikan Budaya Literasi

Membumikan Budaya Literasi

Generasi muda saat ini lebih senang menghabiskan waktu dengan gawainya dibandingkan membaca.Kondisi ini haruslah menjadi keprihatinan kita bersama. Sudah waktunya gerakan literasi mendapatkan perhatian dan porsi lebih dari semua pihak yang merasa berkepentingan dengan masa depan negeri ini. Jika anak-anak kita tidak segera kita kenalkan dengan budaya literasi, maka harapan memetik atau memperoleh generasi emas tinggallah mimpi.

Siapa dan bagaimana memperkenalkan dan/atau membiasakan anak-anak dengan budaya literasi?. Harusnya ini menjadi tanggungjawab bersama seluruh komponen bangsa. Dimulai dari orang tua di rumah, guru di sekolah, LSM/NGOs, Pemerintah Daerah setempat dan seluruh stackholder dengan membuat kebijakan dan/atau program yang mendorong serta membumikan budaya literasi.

Orangtua tetaplah menjadi pemegang peran utama. Sejak dalam kandungan, perbiasakan dan perkenalkan anak budaya literasi dengan cara membacakan buku cerita atau dongeng kepada janin di dalam perut Ibunya. Peran ini tidak hanya menjadi tanggung jawab sang Ibu, sang Ayah juga harus terlibat didalamnya. Karena sejak usia kandungan 5 bulan, janin sudah mampu merespon dan mendengar apa yang disampaikan kepadanya. Jika bagian perut Ibu dielus dan dibisikkan kata-kata, biasanya bayi akan memberikan respon di perut Ibunya. Kegiatan membacakan dongeng ini harus terus berlanjut setelah anak dilahirkan. Menjelang mereka tidur, biasakan dongeng menjadi pengiring dan pengantar tidur mereka. Bacakan dengan ekspresi membaca dongeng yang baik agar anak-anak tertarik. Dan jangan lupa, anak adalah peniru terbaik di dunia. Mereka lebih cepat menangkap apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Sehingga orang tua juka harus memiliki habbit atau kebiasaan membaca secara terus-menerus. Ayah dan Ibu harus memiliki waktu khusus untuk membaca yang dapat disaksikan oleh anak-anak setiap harinya. Dengan menyaksikan dan mengajak anak turut serta dalam rutinitas membaca, bisa dipastikan membaca adalah suatu kebiasan yang harus dilakukan oleh anak. Membaca bukan lagi sesuatu yang berat atau melelahkan. Membaca buku harus dibuat semenarik mungkin dengan menyediakan bacaaan yang menarik sesuai usia anak. Itu sebabnya perpustakaan keluarga haruslah menjadi kebutuhan utama setiap rumah tangga. Buku tidak lagi menjadi kebutuhan tersier tetapi haruslah menjadi kebutuhan primer setelah sandang, pangan dan papan. Inilah yang menjadi tantangan kita bersama. Karena sebagian masyarakat kita saat ini lebih senang berbelanja pakaian, emas dan barang konsumtif lainnya ketimbang buku. Buku belum dianggap sebagai kebutuhan. Harus ada gerakan masif untuk mempopulerkan buku sebagai kebutuhan dan membaca sebagai kebiasaan harian.

Facebook Comments